Asuhan Keperawatan Anak Dengan Diagnosa Medis DHF

Asuhan Keperawatan Anak Dengan Diagnosa Medis DHF , Konsep penyakit dan asuhan keperawatan pada anak dengan DHF konsep penyakit akan di uraikan definisi, etiologi, dan cara penanganan secara medis. Asuhan keperawatan akan diuraikan masalah-masalah yang mucul pada DHF dengan melakukan asuhan keperawatan terdiri dari pengkajian, diagnose, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi.

LAPORAN PENDAHULUAN

  1. Pengertian

Demam dengue/DHF dan demam berdarah dengue/DBD (dengue haemorrhagic fever/DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diathesis hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai oleh hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh. Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan/syok (Suhendro, 2009).

  1. Etiologi

Penyakit DHF disebabkan oleh virus dengue dari kelompok arbovirus B yaitu Athropad borne. Atau virus yang disebabkan oleh Arthropoda. Virus ini termasuk genus flavivirus. Dari famili flavividau. Nyamuk Aides betina biasanya terinfeksi virus dengue pada saat menghisap darah dari seseorang yang sedang pada tahap demam akut. Setelah melalui periode inkubasi ekstrinsik selama 8-10 hari. Kelenjar ludah Aides akan menjadi terinfeksi dan virusnya akan ditularkan ketika nyamuk menggigit dan mengeluarkan cairan ludahnya kedalam luka gigitan ke tubuh orang lain. Setelah masa inkubasi instrinsik selama 3-14 hari timbul gejala awal penyakit secara mendadak yang ditandai dengan demam, pusing, nyeri otot, hilangnya nafsu makan dan berbagai tanda nonspesifik seperti nousea (mual-mual), muntah dan rash (ruam kulit) biasanya muncul pada saat atau persis sebelum gejala awal penyakit tampak dan berlangsung selama 5 hari setelah dimulai penyakit, saat-saat tersebut merupakan masa kritis dimana penderita dalam masa inefektif untuk nyamuk yang berperan dalam siklus penularan. (Widoyono 2010).

Tubuh yang terasa lelah demam yang sering naik turun, nyeri pada perut secara berkelanjutan, sering mual dan muntah darah yang keluar melalui hidung, dan muntah. Kebanyakan orang yang menderita DBD pulih dalam waktu dua minggu Dengan gejala klinis yang semakin berat pada penderita DBD dan dengue shock syndromes dapat berkembang menjadi gangguan pembuluh darah dan gangguan hati. Klien dapat terjadi komplikasi seperti Disorientasi atau Kehilangan daya untuk mengenal lingkungan, terutama yang berhubungan dengan waktu, tempat, dan orang. Shock, effusi pleura, asidosis metabolik, anoksia jaringan, Penurunan kesadaran.(Suriadi dan yuliani, 2009).

  1. Manifestasi Klinik. (Hadinegoro, 2009)

Tanda dan gejala yang mungkin muncul pada klien dengan DHF yaitu: Demam atau riwayat demam akut antar 2-7 hari. Keluhan pada saluran pencernaan, mual, muntah, anoreksia, diare, konstipasi. Keluhan sistem tubuh yang lain: nyeri atau sakit kepala, nyeri pada otot, tulang dan sendi, nyeri ulu hati, dan lain-lain. Temuan-temuan laboratorium yang mendukung adanya trombositopenia (kurang atau sama dengan 100.000/mm3. Gambaran klinis yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DHF dengan masa inkubasi antara 13 – 15 hari, tetapi rata –rata 5-8 hari. Gejala klinis timbul secara mendadak berupa suhu tinggi 2-7 hari, nyeri pada otot dan tulang, mual, kadang – kadang muntah dan batuk ringan. Sakit kepala dapat menyeluruh atau berpusat pada daerah supraorbital dan retrobital. Nyeri di bagian otot terutama di rasakan bila otot perut di tekan. Sekitar mata mungkin ditemukan pembengkakan, lakrimasi, fotofobia, otot sekitar mata terasa pegal. Ruam berikutnya mulai antara 3-6 hari, mula – mula terbentuk macula besar yang kemudian bersatu mencuat kembali, serta kemudian timbul bercak – bercak pteki.

Pada dasarnya hal ini terlihat pada lengan dan kaki, kemudian menjalar ke seluruh tubuh. Pada saat suhu turun ke normal, ruam ini berkurang dan cepat menghilang, bekas – bekasnya terasa gatal. Nadi klien mula – mula cepat dan menjadi normal atau lebih lambat pada hari ke 4 dan ke 5. Bradikardi dapat menetap untuk beberapa hari dalam penyembuhan. Gejala perdarahan mulai pada hari ke 3 dan ke 5 berupa ptekia, purpura, ekimosis, hematemesis, epitaksis. Juga kadang terjadi syock yang biasanya dijumpai pada saat demam telah menurun antara hari ke 3 dan ke 7 dengan tanda; klien menjadi makin lemah, ujung jari, telinga, hidung teraba dingin dan lembab, denyut nadi terasa cepat, kecil dan tekanan darah menurun dengan tekanan sistolik 80 mmHg atau kurang.

  1. Klasifikasi DHF (Hidayat A. Aziz Alimul, 2012).
  2. Derajat I

Demam disertai gejala konstitutional yang tidak khas, manifestasi pendarahan hanya uji torniquet positif dan perdarahan lainnya.

  1. Derajat II

Manifestsi klinis pada derajat I disertai perdarahan spontan, dapat berupa perdarahan di kulit seperti ptekie dan perdarahan lainya.

  1. Derajat III

Manifestasi klinis pada derajat II di tambah dengan ditemukan manifestasi kegagalan sistem sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah, hipotensi dengan kulit yang lembab,dingin dan penderita gelisah . 2

  1. Derajat IV

Manifestasi klinis pada penderita derajat III di tambah dengan di temukan manifetasi renjatan yang berat dengan ditandai tekanan darah dan nadi tidak teratur, DBD derajat II dan IV digolongkan Dengue Shok Syindrom (DSS)

  1. Komplikasi (Hidayat A. Aziz Alimul, 2015).
  2. Ensepalopati : Demam tinggi, ganguan kesadaran disertai atau tanpa kejang.
  3. Disorientasi : Kehilangan daya untuk mengenal lingkungan, terutama yang berhubungan dengan waktu, tempat, dan orang.
  4. Shock : Keadaan kesehatan yang mengancam jiwa ditandai dengan ketidakmampuan tubuh untuk menyediakan oksigen untuk mencukupi kebutuhan jaringan.
  5. Effusi pleura : Suatu keadaan terdapatnya cairan dengan jumlah berlebihan.
  6. Asidosis metabolik : Kondisi dimana keseimbangan asam basa tubuh terganggu karena adanya peningkatan produksi asam atau berkurangnya produksi bikarbonat
  7. Anoksia jaringan : Suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara pernafasan, mengakibatkan oksigen berkurang (hipoksia) disertai dengan peningkatan karbondioksida (hiperkapnea).
  8. Penurunan kesadaran : Keadaan dimana penderita tidak sadar dalam arti tidak terbangun secara utuh sehingga tidak mampu memberikan respons yang normal terhadap stimulus.(Suriadi dan yuliani, 2010).
  9. Pemerikaan Penunjang
  10. Hb dan PCV meningkat ( ≥ 20 %).
  11. Trombositopenia ( ≤ 100.000 / ml ).
  12. Leukopenia ( mungkin normal atau leukositosis ).
  13. Isolasi virus.
  14. Serologi ( Uji H) : respon antibody sekunder
  15. Pada renjatan yang berat, periksa : Hb, PCV berulang kali( setiap jam atau 4-6 jam apabila sudah menunjukkan tanda perbaikan),Faal hemostatis, FDP, EKG, Foto dada, BUN. (Nurarif dan kusuma 2015).
  16. Pencegahan

Prinsip yang tepat dalam pencegahan DHF ialah sebagai berikut :

  1. Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah dengan melaksanakan pemberantasan vektor pada saat sedikit terdapatnya kasus DHF
  2. Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita viremia sembuh secara spontan
  3. Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah penyebaran yaitu di sekolah, rumah sakit termasuk pula daerah penyangga sekitarnya
  4. Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensi penularan tinggi. Ada 2 macam pemberantasan vektor antara lain :

1) Menggunakan insektisida. Yang lazim digunakan dalam program pemberantasan demam berdarah dengue adalah malathion untuk membunuh nyamuk dewasa dan temephos (abate) untuk membunuh jentik (larvasida). Cara penggunaan malathion ialah dengan pengasapan atau pengabutan. Cara penggunaan temephos (abate) ialah dengan pasir abate ke dalam sarang-sarang nyamuk aedes yaitu bejana tempat penampungan air bersih, dosis yang digunakan ialah 1 ppm atau 1 gram abate SG 1 % per 10 liter air. Pencegahan Biologis : Memelihara ikan Pencegahan Kimia : Abate, Larvasida

2) Tanpa insektisida Caranya adalah:

(1) Menguras bak mandi, tempayan dan tempat penampungan air minimal 1 x seminggu (perkembangan telur nyamuk lamanya 7 – 10 hari).

(2) Menutup tempat penampungan air rapat-rapat.Membersihkan halaman rumah dari kaleng bekas, botol pecah dan benda lain yang memungkinkan nyamuk bersarang. (Hadinegoro , 2009).

  1. Penatalaksanaan
  2. Tirah baring atau istirahat baring
  3. Diet makan lunak
  4. Minum banyak (2 – 2,5 liter/24 jam) dapat berupa : susu,teh manis, sirup dan beri penderita sedikit oralit, pemberian cairan merupakan hal yang paling penting bagi penderita DHF.
  5. Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat, NaCl Faali) merupakan cairan yang paling sering digunakan.
  6. Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernafasan) jika kondisi pasien memburuk, observasi ketat tiap jam
  7. Periksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari
  8. Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminopen. (Tarwoto dan wartonah, 2010).

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

  1. Pengkajian
  2. Pengumpulan Data
  3. Identitas Pada pasien Dengue hemoragic fever, sebagian besar sering terjadi pada anak-anak usia 1-4 tahun dan 5-10 tahun, tidak terdapat perbedaan jenis kelamin tetapi kematian sering pada anak perempuan. Di daerah tropis yang di sebabkan oleh nyamuk Aedes aegepty.
  4. Keluhan utama Alasan/keluhan yang menonjol pada pasien Demam Dengue untuk datang ke Rumah Sakit adalah panas tinggi dengan suhu hingga 400C dan anak tampak lemah. (Rampengan, 2009).
  5. Riwayat Penyakit Sekarang

(1) Didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai menggigil, dan saat demam kesadaran komposmentis.

(2) Turunnya panas terjadi antara hari ke 3 dan ke 7 dan anak semakin lemah.

(3) Kadang-kadang disertai dengan keluhan batuk pilek, nyeri telan, mual, muntah, anoreksia, diare atau konstipasi, sakit kepala, nyeri otot dan persendian, nyeri ulu hati dan pergerakan bola mata terasa pegal, serta adanya manifestasi perdarahan pada kulit, gusi (grade III, IV), melena atau hematemesis. (Nur salam, 2013).

  1. Riwayat Penyakit Dahulu

(1) Riwayat kesehatan dalam keluarga perlu dikaji kemungkinan ada keluarga yang sedang menderita DHF.

(2) Kondisi lingkungan rumah dan komunitas Mengkaji kondisi lingkungan disekitar rumah seperti adanya genangan air didalam bak dan selokan-selokan yang dapat mengundang adanya nyamuk. Kemungkinan ada tetangga disekitar rumah yang berjarak 100 m yang menderita DHF

(3) Perilaku yang merugikan kesehatan Perilaku buruk yang sering berisiko menimbulkan DHF adalah kebiasaan menggantung pakaian kotor dikamar, 3M yang jarang / tidak pernah dilakukan gerakan.

(4) Tumbuh kembang Mengkaji mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan tingkat usia, baik perkembangan emosi dan sosial.

(5) Imunisasi Yang perlu dikaji adalah jenis imunisasi dan umur pemberiannya. Apakah imunisasi lengkap, jika belum apa alasannya. (Rampengan, 2009).

  1. Pemeriksaan Fisik
  • B1 (Breathing)

Inspeksi , pada derajat 1 dan 2 : pola nafas regular, retraksi otot bantu nafas tidak ada, pola nafas normal, RR dbn (-), pada derajat 3 dan 4 : pola nafas ireguler, terkadang terdapat retraksi otot bantu nafas, pola nafas cepat dan dangkal, frekuensi nafas meningkat, terpasang alat bantu nafas.

Palpasi, vocal fremitus normal kanan-kiri.

Auskultasi, pada derajat 1 dan 2 tidak adanya suara tambahan ronchi, wheezing, pada derajat 3 dan 4 adanya cairan yang tertimbun pada paru, rales(+), ronchi (+).

Perkusi, pada derajat 3 dan 4 terdapat suara sonor.

  • B2 (Blood)

Inspeksi, pada derajat 1 dan 2 pucat, pada derajat 3 dan 4 tekanan vena jugularis menurun.

Palpasi, pada derajat 1 dan 2 nadi teraba lemah, kecil, tidak teratur, pada derajat 3 tekanan darah menurun, nadi lemah, kecil, tidak teratur, pada derajat 4 tensi tidak terukur, ekstermitas dingin, nadi tidak teraba.

Perkusi, pada derajat 3 dan 4 normal redup, ukuran dan bentuk jantung secara kasar pada kasus demam haemoragic fever masih dalam batas normal.

Auskultasi, pada derajat 1 dan 2 bunyi jantung S1,S2 tunggal, pada derajat 3 dan 4 bunyi jantung S1,S2 tunggal.

  • B3 (Brain)

Inspeksi, pada derajat 1 dan 2 tidak terjadi penurunan tingkat kesadaran (apatis, somnolen, stupor, koma) atau gelisah, pada derajat 3 dan 4 terjadi penurunan tingkat kesadaran (apatis, somnolen, stupor, koma) atau gelisah, GCS menurun, pupil miosis atau midriasis, reflek fisiologis atau reflek patologis.

Palpasi, pada derajat 3 dan 4 biasanya adanya parese, anesthesia.

  • B4 (Bladder)

Inspeksi, pada derajat 1 dan 2 produksi urin menurun (oliguria sampai anuria), warna berubah pekat dan berwarna coklat tua pada derajat 3 dan 4.

Palpasi, pada derajat 3 dan 4 ada nyeri tekan pada daerah simfisis.

  • B5 (Bowel)

Inspeksi, pada derajat 1 dan 2 BAB, konsistensi (cair, padat, lembek), frekuensi lebih dari 3 kali dalam sehari, mukosa mulut kering, perdarahan gusi, kotor, nyeri telan.

Auskultasi, pada derajat 1 dan 2 bising usus normal (dengan menggunakan diafragma stetoskop), peristaltik usus meningkat (gurgling) > 5-20kali/menit dengan durasi 1 menit pada derajat 3 dan 4.

Perkusi, pada derajat 1 dan 2 mendengar adanya gas, cairan atau massa (-), hepar dan lien tidak membesar suara tymphani, pada derajat 3 dan 4 terdapat hepar membesar.

Palpasi, pada derajat 1 dan 2 nyeri tekan (+), hepar dan lien tidak teraba, pada derajat 3 dan 4 pembesaran limpha/spleen dan hepar, nyeri tekan epigastrik, hematemisis dan melena.

  • B6 (Bone)

Inspeksi, pada derajat 1 dan 2 kulit sekitar wajah kemerahan, klien tampak lemah, aktivitas menurun, pada derajat 3 dan 4 terdapat kekakuan otot, pada derajat 3 dan 4 adanya ptekie atau bintik-bintik merah pada kulit, akral klien hangat, biasanya timbul mimisan, berkeringkat, kulit tanpak biru.

Palpasi, pada derajat 1 dan 2 hipotoni, kulit kering, elastisitas menurun, turgor kulit menurun, ekstermitas dingin.(Dianindriyani, 2011).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *