Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Kehamilan Trimester 3

Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Kehamilan Trimester 3Pada kehamilan trimester 3, ibu sudah harus mempersiapkan persalinan dan juga kebutuhan setelah bayi lahir ( Indriyani,2013). Ibu sudah harus mengerti tentang tanda bahaya kehamilan, perawatan kehamilan trimester 3 dan persiapan persalinan. Hal ini dipersiapkan agar proses persalinan lancar serta mengurangi risiko yang dapat menyebabkan hal yang fatal berakibaat kematian Bayi dan kematian Ibu bersalin.

Tahap selanjutnya sebagai tugas seorang ibu adalah menyusui buah hatinya. Persiapan menyusui harus sudah dilakukan semenjak masa kehamilan. Menyusui bayi memiliki banyak manfaat bagi bayi, ibu, keluarga, masyarakat dan Negara. ASI sendiri adalah makanan bayi yang paling sempurna bisa dikatakan makanan emas karena mudah dicerna dan diserap oleh usus bayi. Makanan terbaik untuk bayi usia 0-6 bulan hanya ASI.

  1. Konsep Kehamilan

  1. Pengertian

Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan didefisinikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi, bila dihitung saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan menurut kalender internasional, kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 15 minggu, dan trimester ketiga 13 minggu (Prawiohardjo, 2011).

Kehamilan berlangsung dalam waktu 280 hari (40 minggu). Kehamilan wanita dibagi menjadi tiga triwulan, yaitu triwulan pertama: 0-12 minggu, triwulan kedua: 13-28 minggu, triwulan ketiga: 29-40 minggu (Bandiyah, 2019). Jadi kehamilan Trimester 3 adalah trimester akhir kehamilan pada periode ini pertumbuhan janin dalam rentang waktu 29-40 minggu dan janin berada pada tahap penyempurnaan (Manuaba, 2017).

  1. Masalah / Ketidaknyamanan Pada TRIMESTER 3

Ketidaknyamanan kehamilan Trimester 3 adalah keadaan tidak nyaman yang dirasakan oleh ibu hamil Trimester 3 yaitu dari mulai umur kehamilan 28 minggu sampai 40 minggu. Ketidaknyamanan kehamilan Trimester 3 meliputi:

  1. Konstipasi atau Sembelit

Konstipasi atau Sembelit selama kehamilan terjadi karena Peningkatan hormone progesterone yang menyebabkan relaksasi otot sehingga usus kurang efisien, konstipasi juga dipengaruhi karena perubahan uterus yang semakin membesar, sehingga uterus menekan daerah perut (Putri, 2012). Cara mengatasi konstipasi atau sembelit adalah:

  • Minum air putih yang cukup minimal 6-8 gelas/hari.
  • Makanlah makanan yang berserat tinggi seperti sayuran dan buah-buahan.
  • Lakukanlah olahraga ringan secara teratur seperti berjalan (Jogging).
  • Segera konsultasikan ke dokter/ bidan apabila konstipasi atau sembelit tetap terjadi (Putri, 2012).
  1. Edema atau pembengkakan

Kaki bengkak terjadi pada hamil trimester ketiga. Terdapat dua gangguan kaki bengkak yaitu retensi (penahanan) air dan garam karena gestosis dan tertekannya pembulu darah, karena bagian terendah bayi mulai masuk pintu atas panggul (Bandiyah, 2019). Adapun cara penangaannya adalah sebagi berikut:.

  • Hindari menggunakan pakaian ketat
  • Elevasi kaki secara teratur sepanjang hari,
  • Posisi menghadap kesamping saat berbaring,
  • Penggunaan penyokong atau korset pada abdomen maternal yang dapat melonggarkan vena-vena panggul (Putri, 2012).
  1. Insomnia

Pada trimester ketiga kehamilan, bayi sering menendang, sehingga ibu  hamil akan merasa kurang  nyaman dan merasa sulit untuk tidur (putri, 2012). Bebearapa cara untuk mengurangi gangguan insomnia, yaitu:

  • Ibu hamil diharapkan menghindari kafein yang terdapat pada kopi, soda, teh, dan coklat..
  • Kurangi minum pada malam hari. Sebaiknya ibu lebih banyak minum pada pagi dan siang hari untuk mengurangi frekuensi buang air kecil pada malam hari yang berakibat juga ibu sering kencing pada malam hari.
  • Meminum segelas susu hangat akan membuat ibu hamil mudah terlelap.
  1. Nyeri punggung bawah (Nyeri Pinggang)

Nyeri punggung bawah (Nyeri pinggang) merupakan nyeri punggung yang terjadi pada area lumbosakral. Nyeri punggung bawah biasanya akan meningkat intensitasnya seiring pertambahan usia kehamilan karena nyeri ini merupakan akibat pergeseran pusat gravitasi wanita tersebut dan postur tubuhnya (Putri, 2012). Berikut ini adalah dua prinsip penting yang sebaiknya dilakukan oleh ibu hamil:

  • Tekuk kaki daripada membungkuk ketika mengambil atau mengangkat apapun dari bawah
  • Lebarkan kedua kaki dan tempatkan satu kaki sedikit didepan kaki yang lain saat menekukan kaki sehingga terdapat jarak yang cukup saat bangkit dari proses setengah jongkok.
  • Hindari membungkuk berlebihan, mengangkat beban, dan berjalan tanpa istirahat
  • Gunakan sepatu bertumit rendah
  • Jika masalah bertambah parah, pergunakan penyokong penyokong abdomen eksternal dianjurkan (contoh korset maternal atau belly band yang elastic)
  • Pijatan/ usapan pada punggung
  • Untuk istirahat atau tidur; gunakan kasur yang menyokong atau gunakan bantal dibawah punggung untuk meluruskan punggung dan meringankan tarikan dan regangan.
  1. Sering Buang Air Kecil

Pada bulan-bulan pertama kehamialn kandung kemih akan tertekan oleh uterus yang mulai membesar sehingga menimbulkan sering berkemih. Keadaan ini akan menghilang dengan makin tuanya kehamilan bila uterus keluar dari rongga panggul. Pada akhir kehamilan, jika kepala janin sudah mulai turun ke pintu atas panggul, keluhan itu akan kembali (Prawiohardjo, 2011). Cara mengurangi ketidaknyamanan ini adalah:

  • Ibu perlu penjelasan tentang kondisi yang dialaminya mencangkup sebab terjadinya.
  • Kosongkan saat ada dorongan untuk kencing.
  • Mengurangi asupan cairan pada sore hari dan memperbanyak minum saat siang hari.
  • Jangan kurangi  minum untuk mencegah nokturia, kecuali jika nokturia sangat mengganggu tidur pada malam hari.
  • Batasi minum kopi, teh atau soda.
  • Jelaskan tentang bahaya infeksi saluran kemih dengan menjaga posisi tidur, yaitu berbaring miring ke kiri dan kaki ditinggikan untuk mencegah diuresis (Putri, 2012).
  1. Hemorrhoids

Secara khusus ketidaknyamanan ini terjadi pada trimester II dan III. Hal ini sering terjadi karena konstipasi. Sama halnya dengan varises, pembuluh darah vena didaerah anus juga membesar. Diperparah lagi akibat tekanan kepala terhadap vena di rektum (bagian dalam anus). Konstipasi berkontribusi dalam menimbulkan pecahnya hemorid sehingga menimbulkan perdarahan (Putri, 2012). Cara meringankan/mencegah :

  • Menghindari konstipasi,
  • Menghindari ketegangan selama defekasi,
  • Mandi air hangat/kompres hangat, air panas tidak hanya memberikan kenyamanan tapi juga meningkatkan sirkulasi,
  • Latihan kegel, untuk mengencangkan otot-otot perineal,
  • Istirahat di tempat tidur dengan panggul diturunkan dan dinaikkan
  1. Sesak nafas

Pada kehamilan 33-36 banyak ibu hamil akan merasa susah bernafas hal ini karena tekanan bayi yang berada dibawa diafragma menekan paru ibu (putri, 2012).

Cara menangulanginya adalah :

  • jelaskan penyebab fisiologisnya,
  • Merentangkan tangan di atas kepala serta menarik nafas panjang,
  • Mendorong postur tubuh yang baik, melakukan pernafasan interkostal,
  • anjurkan untuk manarik nafas dalam dan lama.
  1. Kontraksi perut

Braxton-Hicks kontraksi atau kontraksi palsu. Kontraksi berupa rasa sakit yang ringan, tidak teratur, dan hilang bila anda duduk atau istirahat (Putri, 2012).

  1. Keluar cairan vagina

Peningkatan cairan vagina selama kehamilan adalah normal. Cairan biasanya jernih, pada awal kehamilan biasanya agak kental dan mendekati persalinan lebih cair (Putri, 2012).

  1. Tanda-tanda Bahaya Trimester 3

Kehamilan Trimester 3 adalah kehamilan  pada usia 29-42 minggu atau 7-10 bulan. Pada umumnya 80-90% kehamilan berlangsung normal dan hanya 10-12% kehamilan yang disertai dengan penyulit atau berkembang menjadi kehamilan patologis (Prawirohardjo, 2011). Berikut adalah tanda-tanda bahaya kehamilan Trimester 3:

  1. Perdarahan Antepartum

Perdarahan antepartum dapat berasal dari kelainan plasenta yaitu plasenta previa dan solusio plasenta. Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh permukaan jalan lahir. Solusio plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. Pada Kehamilan usia lanjut, perdarahan yang tidak normal adalah merah, banyak dan kadang-kadang tidak selalu disertai dengan rasa nyeri (Asrinah, 2010).

  1. Sakit Kepala yang Berat

Sakit kepala bisa terjadi selama kehamilan, dan seringkali merupakan ketidaknyamanan yang normal dalam kehamilan. Sakit kepala yang serius adalah sakit kepala yang hebat yang menetap dan tidak hilang setelah beristirahat. Kadang-kadang dengan sakit kepala yang hebat tersebut ibu mungkin merasa penglihatannya kabur atau berbayang. Sakit kepala yang hebat dalam kehamilan adalah gejala dari pre-eklampsi (Alickha, 2012).

  1. Pengelihatan kabur

Masalah visual yang mengindikasikan keadaan yang mengancam jiwa ibu adalah perubahan visual mendadak, misalnya pandangan kabur atau berbayang. Perubahan penglihatan ini mungkin disertai dengan sakit kepala yang hebat. Assesmen yang mungkin adalah gejala dari preeklampsia (Alickha, 2012).

  1. Bengkak di Wajah dan Jari-jari Tangan

Pada saat kehamilan, hampir seluruh ibu hamil mengalami bengkak yang normal pada kaki yang biasanya muncul pada sore hari dan hilang setelah beristirahat dengan meninggikan kaki. Bengkak bisa menunjukan adanya masalah serius jika muncul pada muka dan tangan, tidak hilang setelah beristirahat dan disertai dengan keluhan fisik yang lain. Hal ini dapat pertanda anemia, gagal jantung atau pre-eklampsia (Alickha, 2012).

  1. Keluar cairan pervagina

Keluarnya cairan berupa air-air dari vagina pada Trimester 3. Ibu harus dapat membedakan antara urine dengan air ketuban. Jika keluarnya cairan ibu tidak terasa, berbau amis dan berwarna putih keruh,berarti yang keluar adalah air ketuban. Jika kehamilan belum cukup bulan,hati-hati akan adanya persalinan preterm (< 37 minggu) dan komplikasi infeksi intrapartum (Alickha, 2012).

  1. Gerakan janin tidak terasa

Normalnya ibu mulai merasakan gerakan janinnya selama bulan ke-5 atau ke-6, beberapa ibu dapat merasakan gerakan bayinya lebih awal. Jika bayi tidur gerakan bayi akan melemah. Gerakan bayi akan lebih mudah terasa jika ibu berbaring untuk beristirahat dan jika ibu makan dan minum dengan baik. Bayi harus bergerak 3x dalam 1 jam atau minimal 10x dalam 24 jam.Jika kurang dari itu,maka waspada akan adanya gangguan janin dalam rahim, misalnya asfiksia janin sampai kematian janin (Alickha, 2012).

  1. Nyeri perut yang hebat

Sebelumnya harus dibedakan nyeri yang dirasakan adalah bukan his seperti pada persalian. Pada kehamilan lanjut, jika ibu merasakan nyeri yang hebat, tidak berhenti setelah beristirahat, disertai tanda-tanda syok yang membuat keadaan umum ibu makin lama makin memburuk dan disertai perdarahan yang tidak sesuai dengan beratnya syok, maka kita harus waspada akan kemungkinan terjadinya solusio placenta(Alickha, 2012). Nyeri perut yang hebat bisa berarti apendiksitis, kehamilan etopik, aborsi, penyakit radang pelviks, persalinan preterm, gastritis, penyakit kantong empedu, iritasi uterus, abrupsi placenta, infeksi saluran kemih atau infeksi lainnya (Asrinah,2019).

  1. Kebutuhan Ibu Hamil

Selama kehamilan kebutuhan ibu meningkat seperti:

  1. Kebutuhan nutrisi
    • Kalori

Berdasarkan angka kecukupan gizi yang dianjurkan oleh widya karya nasional pangan dan gizi 1983, tambahan kalori untuk wanita hamil  ± 285 kalori. Kecukupan yang dianjurkan, sebanyak 40 kalori/kg/hari dalam distribusi yang seimbang, yaitu protein ± 15%, lemak ± 30% dan karbohidrat ± 55% (salmah dkk, 2006).

  • Protein

Tambahan protein untuk wanita hamil sebesar 9 gram. Kecukupan protein yang dianjurkan untuk wanita indonesia umur 20-39 tahun dengan berat badan 47 kg sebanyak 41 gram protein sehari atau sekitar 0,8 gram/kg/hari, sebagai protein campuran (Salmah dkk, 2006).

  1. Vitamin dan mineral

Vitamin A ditambah 50 mg/hari, itamin ditambah 0,2 mg/hari, riboflavin ditambah 0,2 mg/hari, niacin ditambah 0,6 mg/hari, dan zat besi ditambah 2 mg/hari. Pada waktu hamil, keperluan akan zat besi sangat meningkat untuk membentuk darah janin dan persediaan ibu masa latasi sampai enam bulan sesudah melahirkan, karena air susu ibu tidak mengandung  garam besi, Persedian ibu sebagai cadangan untuk penggantian darah yang hilang pada waktu persalinan (Salmah dkk, 2006).

Pemberian zat besi dimulai setelah rasa mual dan muntah hilang, satu tablet sehari selama minimal 90 hari. Tiap tablet mengandung FeSO4  320 mg (zat besi 60 mg) dan asam folat 500 mg. Bila ibu merasa mual, konstipasi atau diare akibat tablet zat besi, dianjurkan untuk meminumnya setelah makan. Sebaiknya, tablet zat besi  dimakan bersama buah-buahan yang mengandung vitamin C, karena untuk menambah penyerapan. Jangan meminum susu, teh atau kopi, karena akan menghambat penyerapan (Salmah dkk, 2006).

Tablet zat besi dapat diminum separuh pada pagi hari dan separuh lagi pada malam hari, untuk mengurangi efek samping. Bahan  makanan yang mengandung zat besi yaitu bersumber dari hewani seperti telur, hati, ginjal, dan daging atau yang bersumber dari nabati seperti kacang-kacangan dan sayuran hijau (Salmah dkk, 2006).

  1. Air

Air diperlukan tetapi sering dilupan pada saat pengkajian. Air berfungsi membantu sistem pencernaan makanan dan proses  transportasi. Selama hamil terjadi nutrisi dan cairan pada membran sel. Air menjaga keseimbangan sel, darah, getah bening, dan cairan tubuh lainya.  Air juga menjaga keseimbangan suhu tubuh, karena itu dianajurkan minum 6-8 gelas (1500-2000 ml) air, susu, dan jus tiap 24 jam (Salmah dkk, 2006).

  1. Imunisasi

Tanyakan apakah ibu hamil pernah mendapat suntikan tetanus toksoid (TT). Bila sudah,  tanyakan kapan diperolehnya.  Ibu hamil yang belum pernah mendapat TT, pada kehamilan sebelumnya atau pada waktu akan menjadi pengantin, maka perlu mendapat dua kali suntikan TT dengan jarak minimal satu bulan. TT yang pertama diberikan  pada kunjungan antenatal yang pertama. Bila sudah pernah, maka cukup diberika sekali selama kehamilan. Suntikan TT melindungi ibu dan bayinya dari tetanus neonaturum (Salmah dkk. 2006).

  1. Senam Hamil

Senam hamil bukan merupakan keharusan, Namun dengan melakukan senam hamil akan banyak memberi manfaat dalam membantu kelancaran proses persalinan antara lain dapat melatih pernafasan dan relaksasi, menguatkan otot-otot panggul dan perut, serta melatih cara mengejan yang benar. Kesiapan ini merupakan bekal penting bagi calon ibu saat persalinan. Tujuan senam hamil yaitu memberi dorongan serta melatih jasmani dan rohani dari ibu secara bertahap agar ibu dapat menghadapi persalinan dengan tenang, sehingga proses persalinan dapat berjalan lancar dan mudah (Salmah dkk. 2006). Adapun manfaat senam hamil secara teratur yaitu:

  • Memperbaiki sirkulasi darah,
  • Mengurangi pembengkakan,
  • Memperbaiki keseimbangan otot,
  • Mengurangi resiko gangguan gastrointestinal termasuk sembelit,
  • Menguatkan otot perut,
  • Mempercepat proses penyembuhan setelah melahirkan.
  1. Antenatal Care (ANC)

Pengertian Antenatal care adalah suatu asuhan yang diberikan untuk ibu hamil sebelum melahirkan dengan cara memeriksakan kepada tenaga kesehatan (Puskesmas, Klinik, dokter praktek, Bidan praktek, RSIA,  atau faskes lain nya) untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil, sehingga mampu menghadapi proses persalinan, masa nifas, persiapan memberikan ASI dan kembali nya kesehatan reproduksi secara wajar (Saifudin,2012).

  1. Tujuan ANC adalah :

  • Memantau dan mengetahui kesehatan ibu dan janin sehingga apabila ada kelainan, bisa segera diketahui dan diatasi.
  • Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi.
  • Mengenal secara dini adanya ketidak normalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil,trmasuk riwayat penyakit secara umum dan kesulitan-kesulitan selama masa hamil dan nifas.
  • Mempersiakan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat baik ibu maupun bayi nya dengan trauma seminimal mungkin.
  • Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI ekslusif.

Berdasar uraian tersebut tujuan antenatal care adalah menyiapkan ibu dengan sebaik-baiknya baik fisik maupun mental serta menyelamatkan ibu dan janinnya dalam kehamilan, persalinan, dan masa nifas sehingga keadaan post partum mereka sehat dan normal. Manfaat ANC Pemeriksaan atau pengawasan antenatal memberikan manfaat dengan ditemukannya berbagai kelainan yang menyertai kehamilan secara dini. Sehingga dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langkah-langkah dalam pertolongan pesalinannya. Manfaat antenatal care sangat besar karena dapat mengetahui berbagai resiko dan komplikasi kehamilan sehingga ibu hamil dapat diarahkan untuk melakukan rujukan (Manuaba, 2001). Manfaat asuhan antenatal untuk ibu adalah mengurangi dan menegakkan secara dini komplikasi kehamilan, mempertahankan dan meningkatkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil untuk menghadapi persalinan, meningkatkan kesehatan ibu setelah persalinan dan untuk memberikan ASI.

Konseling dalam pemakaian alat kontrasepsi KB, memberikan nasehat dan petunjuk berbagai masalah yang berkaitan dengan kehamilannya serta berusaha menetapkan penggolongan penggolongan kehamilan dengan faktor resiko atau resiko tinggi akan menentukan pertolongan persalinan yang aman (Manuaba, 2001). Manfaat untuk janin adalah guna menjamin pertumbuhan bayi yang sehat dalam kandungan (BKKBN, 2003). Kehamilan dengan faktor resiko atau resiko tinggi akan menentukan pertolongan persalinan yang aman (Manuaba, 2001). Manfaat untuk janin adalah guna menjamin pertumbuhan bayi yang sehat dalam kandungan (BKKBN, 2003).

Jadwal Kunjungan Pemeriksaan Antenatal Care Kunjungan antenatal adalah kontak antara ibu hamil dan petugas kesehatan yang memberi pelayanan antenatal standar untuk mendapatkan pemeriksaan kehamilan (Depkes, 2017). Menurut Saifuddin (2012) dalam standar pelayanan kebidanan, setiap wanita hamil memerlukan minimal empat kali kunjungan selama periode antenatal:

  1. Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu)
  2. Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14-28)
  3. Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28-36 dan sesudah minggu ke-36).

Kepatuhan melakukan ANC adalah ketaatan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya ke tempat pelayanan kesehatan untuk mendapatkan asuhan kehamilan, persalinan, nifas, persiapan memberi ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar sesuai ketentuan yang telah ditetapkan (Manuaba, 2001). Seorang ibu hamil harus patuh melakukan perawatan antenatal care dengan melakukan pemeriksaan kehamilan sesuai dengan standar yaitu, minimal satu kali kunjungan pada trimester I, minimal satu kali kunjungan pada trimester II, dan minimal dua kali pada trimester III sesuai jadwal yang ditetapkan oleh tenaga kesehatan (Depkes RI, 2012).

Dampak dari tidak patuh melakukan ANC Tujuan utama asuhan antenatal adalah untuk memfasilitasi hasil yang sehat dan positif bagi ibu maupun bayinya dengan cara membina hubungan saling percaya dengan ibu, mendeteksi komplikasi yang dapat mengancam jiwa, mempersiapkan kelahiran dan memberikan pendidikan (Pusdiknakes, 2012 ). Sehingga bila ANC tidak dilakukan sebagaimana mestinya maka akan mengakibatkan dampak:

  1. Ibu hamil akan kurang mendapat informasi tentang cara perawatan kehamilan yang benar.
  2. Tidak terdeteksinya tanda bahaya kehamilan secara dini
  3. Tidak terdeteksinya anemia kehamilan yang dapat menyebabkan perdarahan saat persalinan.
  4. Tidak terdeteksinya tanda penyulit persalinan sejak awal seperti kelainan bentuk panggul atau kelainan pada tulang belakang, atau kehamilan ganda.
  5. Tidak terdeteksinya penyakit penyerta dan komplikasi selama kehamilan seperti pre eklampsia, penyakit kronis seperti penyakit jantung, paru dan penyakit karena genetik seperti diabetes, hipertensi, atau cacat kongenital.

Puskesmas Jetis adalah salah satu faskes yang melayani ANC dengan menerapkan pemeriksaan Antenatal Care Terpadu, yaitu :

  1. Memberikan pelayanan dan konseling kesehatan, termasuk gizi, agar kehamilan berlangsung sehat;
  2. Melakukan deteksi dini masalah, penyakit, dan penyulit / komplikasi kehamilan
  3. Menyiapkan persalinan yang bersih dan aman;
  4. Merencanakan antisipasi dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi penyulit / komplikasi;
  5. Melakukan penatalaksanaan kasus serta rujukan cepat dan tepat waktu bila diperlukan;
  6. Melibatkan ibu dan keluarganya terutama suami dalam menjaga kesehatan dan gizi ibu hamil, menyiapkan persalinan dan kesiagaan bila terjadi penyulit / komplikasi.

Dalam ANC terpadu ini menerapakan 10 T, yaitu :

  1. Timbang berat badan
  2. Ukur tekanan darah
  3. Ukur tinggi fundus uteri
  4. Pemberian imunisasi TT (tetanus toksoid) lengkap
  5. Tentukanstatus gizi(LILA)
  6. Pemberian tablet zat besi, minimal 90 hari selama kehamilan
  7. Tes terhadap penyakit menular seksual, HIV/AIDS hepatitis dan malaria
  8. TentukanpresentasidanDJJ
  9. Tata laksanakasus
  10. Temu wicara (konseling).

Konseling pada masa kehamilan sangat diperlukan dalam upaya perawatan kehamilan dan persiapan persalinan baik secara fisik maupun mental ibu hamil, antara lain konseling Psikologi, konseling gizi dan konseling ASI.

Menyusui adalah cara yang normal dan sehat untuk memberi makan bayi. Ini dalah yang terbaik, dan ini bukanlah suatu tambahan; hanya inilah yang diperlukan bayi. Seorang anak yang diberi makanan buatan seperti susu formula bayi atau susu sapi atau susu hewan lain, akan dirugikan (WHO/CDR/93.3).

Mengapa ASI itu penting? Karena keuntungan menyusui ASI lebih dari sekedar memberikan ASI kepada bayi. Menyusui dapat menguntungkan seluruh keluarga, secara emosional maupun ekonomi, dan melindungi kesehatan ibu dengan beberapa cara. Keuntungan bayi yang diberi ASI adalah :

  1. ASI mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan bayi dengan tepat
  2. ASI mudah dicerna, mudah diserap usus bayi dan digunakan secara efisien oleh tubuh bayi
  3. ASI melindungi bayi terhadap infeksi, yang sangat penting bagi bayi baru lahir.
  4. Memberikan keuntungan jangka panjang pada kesehatan, seperti mengurangi risiko obesitas dan alergi.

Keuntungan Menyusui adalah

  1. Membantu ibu dan bayi mengembangkan hubungan yang erat dan penuh kasih (bonding).
  2. Membantu perkembngan bayi.
  3. Dapat membantu menunda kehamilan.
  4. Melindungi kesehatan ibu ; menyusui membantu mempercepat pemulihan Rahim ke ukuran semula, sehingga, hal ini membantu mengurangi perdarahan dan membantu mecegah anemi. Menyusui juga mengurani risiko kanker ovarium, kanker payudara pada ibu.Lebih murah dan lebih mudah dari susu formula. Tidak menimbulkan residu dan bahan limbah.

Meskipun menyusui ASI itu penting dan  bukanlah sesuatu yang sulit, tapi tidak sedikit ibu yang mengalami kegagalan dalam menyusui ASI. Banyak factor penghambat, salah satu nya bentuk putting dan payudara ibu.

Ada beberapa kondisi pada payudara yang menyebabkan kesulitan menyusui, seperti putting datar, putting besar / panjang, putting lebar dan terbenam, payudara bengkak, saluran tersumbat dan bengkak, putting lecet dan retak, dan lain-lain. Banyak ibu yang meragukan  bentuk dan ukuran payudara nya. Tetapi Walaupun berbagai bentuk ukuran, payudara ini normal dan dapat memproduksi ASI dengan baik dan pasti cukup untuk bayi nya. Besar kecil nya payudara hanya ditentukan oleh jumlah lemak, bukan oleh jumlah jaringan kelenjar.

Bagaimanapun pada dasar nya bayi dapat menyusu dengan baik pada ukuran payudara apa saja dan pada bentuk putting apapun selama perlekatan nya baik. Bagaimana Perlekatan Payudara dan menyusui yang baik? Tanda-tanda perlekatan yang baik, adalah sebagai berikut :

  1. Daerah yang terlihat diatas mulut bayi lebih luas ketimbang dibawah nya.
  2. Mulut bayi terbka lebar.
  3. Bibif bawah bayi terlipat keluar
  4. Dagu bayi menempel di payudara ibu.

Tanda-tanda menyusu yang efektif adalah saat bayi melakukan isapan yang lambat dan dalam,kemudian dia berhenti sebentar dan  menunggu saluran ASI mengisi lagi, setelah itu dia melakukan isapan yang cepat untuk untuk memerah ASI,  ketika ASI nya mengalir isapan nya menjadi lebih dalam dan lambat lagi, terdengar bunyi bayi menelan, pipi bayi membulat.

  1. Teori Keluarga
  2. Definisi

Beberapa definisi keluarga menurut para ahli:

  1. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

( Jhonsons dan Leny, 2010).

  1. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami istri dan anaknya, atau ibu dan anaknya ( Suprayitno, 2008)
  2. Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan, emosional dan individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga (Friedman, 2010).
  1. Tipe-Tipe Keluarga

Menurut (Suprayitno, 2008) Keluarga juga dibedakan menjadi keluarga tradisional dan non tradisional.

  1. Tradisional
  • Nuclear Family atau Keluarga Inti: Ayah, ibu, anak tinggal dalam satu rumah ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan perkawinan, satu atau keduanya dapat bekerja di luar rumah.
  • Reconstituted Nuclear: Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali suami atau istri. Tinggal dalam satu rumah dengan anak-anaknya baik itu bawaan dari perkawinan lama maupun hasil dari perkawinan baru.
  • Niddle Age atau Aging Cauple: Suami sebagai pencari uang, istri di rumah atau kedua-duanya bekerja di rumah, anak-anak sudah meninggalkan rumah karena sekolah atau perkawinan / meniti karier.
  • KeluargaDyad / Dyadie Nuclear: Suami istri tanpa anak.
  • Single Parent: Satu orang tua (ayah atau ibu) dengan anak.
  • Dual Carrier: Suami istri / keluarga orang karier dan tanpa anak.
  • Commuter Married: Suami istri / keduanya orang karier dan tinggal terpisah pada jarak tertentu, keduanya saling mencari pada waktu-waktu tertentu.
  • Single Adult: Orang dewasa hidup sendiri dan tidak ada keinginan untuk kawin.
  • Extended Family: 1, 2, 3 generasi bersama dalam satu rumah tangga.
  • Keluarga Usila: Usila dengan atau tanpa pasangan, anak sudah pisah.
  1. Non Tradisional
  • Commune Family: Beberapa keluarga hidup bersama dalam satu rumah, sumber yang sama, pengalaman yang sama.
  • Cohibing Coiple: Dua orang / satu pasangan yang tinggal bersama tanpa kawin.
  • Homosexual / Lesbian: Sama jenis hidup bersama sebagai suami istri.
  • Institusional: Anak-anak / orang-orang dewasa tinggal dalam suatu panti-panti.
  • Keluarga orang tua (pasangan) yang tidak kawin dengan anak.

 

  1. Tugas Keluarga di Bidang Kesehatan

Suprayitno (2008) menyatakan bahwa fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan, meliputi:

  1. Mengenal masalah kesehatan keluarga. Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berarti dan karena kesehatanlah kadang seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis. Orang tua perlu mengenal keadaan kesehatan dan perubahan-perubahan yang dialami anggota keluarga. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian orang tua/keluarga. Apabila menyadari adanya perubahan keluarga, perlu dicatat kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi, dan seberapa besar perubahannya.
  2. Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga. Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga.
  3. Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan. Seringkali keluarga telah mengambil tindakan yang tepat dan benar, tetapi keluarga memiliki keterbatasan yang telah diketahui keluarga sendiri. Jika demikian, anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan perlu memperoleh tindakan lanjutan atau perawatan agar masalah yang lebih parah tidak terjadi.
  1. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga. Tugas ini merupakan upaya keluarga untuk mendesain atau memodifikasi lingkungan agar keluarga dimana mereka bertempat bisa menjaga dan meningkatkan status keluarga.
  2. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan disekitarnya bagi keluarga. Tugas keluarga ini ditekankan pada pemilihan dan pemanfaatan pelayanan fasilaitas kesehatan disekitar keluarga saat ada keluarga yang sakit.
  3. Tahap Perkembangan Keluarga

Tahap perkembangan keluarga menurut Friedman (2010)

  1. PasanganBaru

Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki (suami) dan perempuan (istri) membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan keluarga masing-masing. Meninggalkan keluarga bisa berarti psikologis karena kenyataannya banyak keluarga baru yang masih tinggal dengan orang tuanya.

Tugas perkembangan :

  • Membina hubungan intim yang memuaskan
  • Menetapkan tujuan bersama keluarga
  • Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok sosial
  • Mendiskusikan rencana memiliki anak atau KB
  • Persiapan menjadi orang tua
  • Memahami prenatal care
  1. Keluarga “child bearing” kelahiran anak pertama

Dimulai sejak hamil sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak berumur 30 bulan atau 2,5 tahun.

Tugas perkembangan keluarga yang penting pada tahap ini adalah:

  • Persiapan menjadi orang tua
  • Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan sexual dan kegiatan.
  • Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.
    Peran utama perawat adalah mengkaji peran orang tua; bagaiaman orang tuan berinteraksi dan merawat bayi. Perawat perlu menfasilitasi hubungan orang tua dan bayi yang positif dan hangat sehingga jalinan kasih sayang antara bayi dan orang tua dapat tercapai.
  1. Keluargadengan anak pra sekolah

Tahap ini dimulai saat anak pertama berumur 2,5 tahun dan berakhir saat anak berusia 5 tahun.

Tugas perkembangan:

  • Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat tinggal, privasi dan rasa aman.
  • Membantu anak untuk bersosialisasi
  • Beradaptasi dengan anaky baru lahir, sementara kebutuhan anak lain juga harus terpenuhi.
  • Mempertahankan hubungan yang sehat baik didalam keluarga maupun dengan masyarakat.
  • Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak.
  • Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.
  • Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh kembang.
  1. Keluarga dengan anak sekolah

Tahap ini dimulai saat anak berumur 6 tahun (mulai sekolah ) dan berakhir pada saat anak berumur 12 tahun. Pada tahap ini biasanya keluarga mencapai jumlah maksimal sehingga keluarga sangat sibuk. Selain aktivitas di sekolah, masing-masing anak memiliki minat sendiri. Dmikian pula orang tua mempunyai aktivitas yang berbeda dengan anak.

Tugas perkembangan keluarga :

  • Membantu sosialisasi anak dengan tetangga, sekolah dan lingkungan.
  • Mempertahankan keintiman pasangan.
  • Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat, termasuk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga.

Pada tahap ini anak perlu berpisah dengan orang tua, memberi kesempatan pada anak untuk bersosialisasi dalam aktivitas baik di sekolah maupun di luar sekolah.

  1. Keluargadengan anak remaja

Dimulai saat anak berumur 13 tahun dan berakhir 6 sampai 7 tahun kemudian. Tujuannya untuk memberikan tanggung jawab serta kebebasan yang lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi orang dewasa.

Tugas perkembangan:

  • Memberikan kebebasan yang seimbnag dengan tanggung jawab.
  • Mempertahankan hubungan yang intim dengan keluarga.
  • Mempertahankan komunikasi yang terbuka antara anak dan orang tua. Hindari perdebatan, kecurigaan dan permusuhan.

Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga.
Merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik orang tua dan remaja.

  1. Keluarga dengan anak dewasa

Dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir pada saat anak terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahapan ini tergantung jumlah anak dan ada atau tidaknya anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua.

Tugas perkembangan:

  • Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
  • Mempertahankan keintiman pasangan.
  • Membantu orang tua memasuki masa tua.
  • Membantu anak untuk mandiri di masyarakat.
  • Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.
  1. Keluarga usia pertengahan

Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah dan berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal. Pada beberapa pasangan fase ini dianggap sulit karena masa usia lanjut, perpisahan dengan anak dan perasaan gagal sebagai orang tua.

Tugas perkembangan :

  • Mempertahankan kesehatan.
  • Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan anak-anak.
  • Meningkatkan keakraban pasangan.
  • Fokus mempertahankan kesehatan pada pola hidup sehat, diet seimbang, olah raga rutin, menikmati hidup, pekerjaan dan lain sebagainya.
  1. Keluarga usia lanjut

Dimulai saat pensiun sanpai dengan salah satu pasangan meninggal dan keduanya meninggal.

Tugas perkembangan:

  • Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan.
  • Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan pendapatan.
  • Mempertahankan keakraban suami/istri dan saling merawat.
  • Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat.
  • Melakukan life review.
  • Mempertahankan penataan yang memuaskan merupakan tugas utama keluarga pada tahap ini.
  1. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Kehamilan
  2. Pengkajian
  3. Data Demografi
  • Nama klien
  • Umur klien
  • Jenis kelamin
  • Alamat
  • Status perkawinan
  • Agama
  • Suku
  • Pendidikan
  • Pekerjaan
  • Nama suami
  • Umur suami
  • Tanggal periksa
  • Tanggal pengkajian
  1. Keluhan Utama Saat Ini

Ibu mengatakan kadang-kadang merasa nyeri pada daerah ulu hati terutama jika untuk bernafas dalam. Ibu juga mengatakan ingin mengetahui keadaan bayinya.

  1. Riwayat Penyakit Dahulu

Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit yang berat atau memerlukan perawatan di rumah sakit baik sebelum maupun selama kehamilan.

  1. Riwayat Penyakit Keluarga

Menurut ibu tidak ada anggota keluarganya maupun suaminya yang menderita penyakit berat atau menahun seperti darah tinggi, penyakit gula, hepatitis, penyakit jantung, atau penyakit lainnya.

  1. Riwayat Ginekologi

Ibu mengatakan belum pernah menderita penyakit menular seksual, juga pembedahan yang berhubungan dengan alat kandungan. Ibu belum pernah melakukan pemeriksaan pap smear, menurutnya selama ini tidak ada keluhan yang berhubungan dengan kondisi alat kandungannya yang memerlukan pemeriksaan oleh dokter.

  1. Riwayat Obstetri
  • Menstruasi
  1. Menarche
  2. Siklus menstruasi
  3. G1 P0 A0
  4. HPMT
  5. HPL
  6. Usia kehamilan
  7. Keluhan yang muncul selama kehamilan ini
  • Trimester 1
  • Trimester 2
  • Trimester 3
  1. Kebiasaan yang Merugikan
  2. Imunisasi
  3. Kebutuhan Dasar
  • Nutrisi
  1. Pola makan, frekuensi, jenis, jumlah
  2. Perubahan pola makan selama hamil
  3. Alergi makanan :Ibu menyatakan tidak ada alergi terhadap makanan tertentu.
  4. Minum jumlah dan jenis
  5. Keluhan yang berhubungan dengan nutrisi
  • Eliminasi
  1. Buang air kecil
  2. Buang air besar
  3. Aktifitas dan latihan
  • Aktifitas selama hamil
  • Keluhan dalam beraktivitas
  • Istirahat dan tidur
  • Seksualitas
  • Persepsi dan kognitif
  1. Status mental
  2. Sensasi
  3. Pendengaran
  4. Berbicara
  5. Penciuman
  6. Perabaan
  7. Kejang
  8. Nyeri
  • Persepsi dan konsep diri
  1. Motivasi terhadap kehamilan
  2. Efek kehamilan terhadap body image
  3. Orang yang paling dekat
  4. Tujuan dari kehamilan
  • Keluarga Berencana
  1. Riwayat Penggunaan Kontrasepsi
  2. Rencana setelah persalinan
  3. Pemeriksaan Fisik
  • Tanda-tanda vital
  1. Tekanan darah
  2. Nadi
  3. Suhu
  4. Frekuensi Nafas
  • Status gizi
  1. Berat badan
  2. Tinggi badan
  • Kulit, rambut, dan kuku
  1. Inspeksi kulit
  2. Inspeksi kuku dan rambut
  • Kepala dan leher
  1. Mata : Ada tidaknya kondisi anemis pada konjungtiva
  2. Telinga : Normal
  3. Leher : Ada tidaknya pembesaran kelenjar tiroid
  4. Mulut : Kondisi kebersihan mulut
  5. Tenggorokan : Ada tidaknya pembesaran amandel
  6. Hidung : Kaji Kondisi kebersihan hidung
  • Thoraks dan paru-paru
  1. Inspeksi: Simetris kanan-kiri,  tidak terdapat retraksi dinding dada, tidak tampak ketinggalan gerak, pernafasan diafragma, kondisi puting menonjol atau belum. Terjadi hiperpigmentasi pada aerola
  2. Palpasi: Tidak terdapat nyeri tekan, tidak teraba massa.
  3. Perkusi: Resonan pada lapang paru, paru-paru dalam batas normal.
  4. Auskultasi: Tidak terdengar suara nafas tambahan.
  • Jantung
  1. Inspeksi: Iktus kordis tidak tampak, jantung tidak membesar, tidak tampak pelebaran vena jantung.
  2. Palpasi: Tidak ada nyeri tekan, tidak terdapat pembesaran, iktus kordis teraba dengan pulsasi baik.
  3. Perkusi: Dullnes pada area jantung, batas-batas jantung normal.
  4. Auskultasi: S1 dan S2 murni, tidak teredengar bising jantung.
  • Abdomen
  1. Inspeksi: tampak striae gravidarum pada tengah abdomen, membesar, bentuk bulat, tidak tampak pelebaran vena abdomen, umbilikus bersih tidak terdapat discharge.
  2. Palpasi

Leopold I         : tinggi fundus uteri 20 Cm. Pada daerah fundus uteri teraba kepala, janin belum turun

Leopold II: punggung kiri. bagian kecil janin teraba di bagian kanan.

Leovold III: presentasi bokong/kepala

Leopold IV: kepala janin belum masuk pintu atas panggul.

  1. Auskultasi DJJ : 13–13–12= 152 kali/menit, kuat, teratur.

Tafsiran berat janin: TFU-12 Cm x 155 gr  20-12 x 155= 1270 gr.

  • Genitalia
  • Anus dan rectum
  • Vaskularisasi perifer
  1. Inspeksi wajah dan ekstremitas: tidak terdapat oedema, tidak ada kelainan.
  2. Perkusi refleks tendo: positif, tidak ada gangguan.
  • Muskuloskeletal

Lengkap, tidak ada masalah, kekuatan otot normal.

  • Neurologik

Nyeri pada daerah ulu hati terutama jika untuk nafas dalam.

  1. Diagnosa Keperawatan
  2. Nyeri akut berhubungan dengan Agen injuri biologis: Perubahan fisiologis kehamilan.
  3. Kurang pengetahuan: Perawatan kehamilan berhubungan dengan Kurangnya informasi.
  4. Rencana Keperawatan
  5. Nyeri akut berhubungan dengan Agen injuri biologis: Perubahan fisiologis kehamilan.
Diagnosa Intervensi
Nyeri akut adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa (international association for the study of pain): awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung <6 bulan

Batasan karakteristik

·         Perubahan selera makan

·         Perubahan tekanan darah

·         Perubahan frekuensi jantung

·         Perubahan frekuensi pernapasan

·         Laporan isyarat

·         Diaphoresis

·         Perilaku distraksi (mis., berjalan mondar mandir, mencari orang lain dan/ aktivitas lain, aktivitas yang berulang)

·         Mengekpresikan perilaku (mis., gelisah, merengek, menangis, waspada, iritabilitas, mendesah)

·         Masker wajah (mis., mata kurang bercahaya, tampak kacau, gerakan mata berpencar atau tetap pada satu focus, meringis)

·         Sikap melindungi area nyeri

·         Fokus menyempit (mis., gangguan persepsi nyeri, hambatan proses berpikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan)

·         Indikasi  nyeri yang dapat diamati

·         Perubahan posisi untuk menghindari nyeri

·         Sikap tubuh melindungi

·         Dilatasi pupil

·         Melaporkan nyeri secara verbal

·         Gangguan tidur

Faktor yang berhubungan

·         Agen cedera (mis.,biologis, zat kimia, fisik, psikologis)

Pain management

1.      Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi

2.      Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan

3.      Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri

4.      Kurangi faktor presipitasi nyeri

5.      Lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi, interpersonal)

6.      Ajarkan teknik non farmakologi

 

Analgesic administration

1.       Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat

2.       cek riwayat alergi

monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian alagesik pertama kali

 

1.       Mengevaluasi implementasi pada pasien dan merencanakan intervensi berikutnya.

 

2.       Mengetahui tingkat nyeri yang di derita pasien

3.       Mengurangi penyebab nyeri pasien

 

  1. Kurang pengetahuan: Perawatan kehamilan berhubungan dengan Kurangnya informasi.
Diagnosa Intervensi Rasional
Pengetahuan tentang penyakit, setelah diberikan penjelasan selama 2 x pasien mengerti proses penyakitnya dan Program perawatan serta Therapi yg diberikan dg:

Indikator:

Pasien mampu:

·         Menjelaskan kembali tentang penyakit,

·         Mengenal kebutuhan perawatan dan pengobatan tanpa cemas

NIC: Pengetahuan penyakit

Aktifitas:

1.       Kaji pengetahuan klien tentang penyakitnya

 

 

2.       Jelaskan tentang proses penyakit (tanda dan gejala), identifikasi kemungkinan penyebab. Jelaskan kondisi tentangklien

3.       Jelaskan tentang program pengobatan dan alternatif pengobantan

4.       Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin digunakan untuk  mencegah komplikasi

5.       Diskusikan tentang terapi dan pilihannya

6.       Eksplorasi kemungkinan sumber yang bisa digunakan/ mendukung

7.       instruksikan kapan harus ke pelayanan

8.       Tanyakan kembali pengetahuan klien tentang penyakit, prosedur perawatan dan pengobatan

 

 

 

1.       Mempermudah dalam memberikan penjelasan pada klien

2.       Meningkatan pengetahuan dan mengurangi cemas

 

3.       Mempermudah intervensi

 

 

4.       Mencegah keparahan penyakit

 

 

5.       Memberi gambaran tentang pilihan terapi yang bisa digunakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *