Askep Maternitas Dengan Diagnosa Medis Post Sectio Caesarea

askep maternitas,askep maternitas media post partum

ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS DENGAN DIAGNOSA MEDIS POST SECTIO CAESAREA INDIKASI KETUBAN PECAH DINI

Belum ada cara pasti untuk mencegah kebocoran kantung ketuban. Namun, yang bisa dilakukan untuk menurunkan resiko adalah pemeriksaankehamilan secara teratur, mengkonsumsi makanan yang sehat, minum cukup dan olahraga teratur. Jika sudah terindikasi KPD maka peran seorang perawat menjaga lingkungan untuk meminimalkan resiko infeksi dan cedera pada ibu maupun janin salah satunya dengan menganjurkan untuk mengurangi aktivitas atau istirahat pada awal trimester ketiga. Mengkonsumsi vitamin C untuk kebutuhan nutrisi harian yang mampu mengurangi resiko ketuban pecah dini, tentunya harus dengan anjuran dokter kandungan. Sedangkan Health Education yang diberikan setelah dilakukan Sectio caesarea yaitu tentang mobilisasi dini, juga mengajarkan ibu untuk segera mandiri dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan merawatnya bayinya serta mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli serta perawatan luka post op Sectio caesarea agar tidak terjadi infeksi, teknik relaksasi untuk mengurangi nyeri, serta nutrisi yang harus dikonsumsi untuk mempercepat penyembuhan luka dengan diet yang tinggi protein.

LAPORAN PENDAHULUAN

Konsep Sectio Caesare

  1. Pengertian

Sectio caesare adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram (Prawirohardjo, 2007). Sectio cesarea (SC) adalah membuka perut dengan sayatan pada dinding perut dan uterus yang dilakukan secara vertical atau mediana, dari kulit sampai fasia (Wiknjosastro, 2007).

  1. Etiologi
  2. Etiologi yang berasal dari ibu

Yaitu pada primigravida yang kelainan letak, primi para tua disertai kelainan letak ada,disproporsi sefalo pelvik (disproporsi janin/panggul), ada sejarah kehamilan dan persalinan yang buruk, terdapat kesempitan panggul, plasenta previa terutama pada primigravida, solusi plasenta tingkat I-II, komplikasi kehamilan yaitu preeklamsia-eklamsia, atas permintaan, kehamilan yang disertai penyakit (DM, Jantung), gangguan jalan persalinan (kista ovarium, mioma uteri, dan sebagainya) (Mulyawati, 2011).

  1. Etiologi yang berasal dari janin

Fetal distress/gawat janin, mal presentasi dan mal posisi kedudukan janin, prolapsus tali pusat dengan pembukaan kecil, kegagalan persalinan vakum/forceps ekstraksi (Mulyawati, 2011).

  1. Indikasi

Mochtar (2012) hanya mengelompokkan 2 kategori, yaitu emergency dan elective Caesaren sectio. Disebut emergency apabila adanya abnormalis pada power atau tidak kuat konraksi uterus. ”Passenger” bila malposisi atau malpresentasi. Serta “passage” bila ukuran panggul sempit atau adanya kelainan anatomi.

  1. Indikasi Ibu
  • Panggul Sempit Absolut Pada panggul ukuran normal apapun jenisnya, yaitu panggul ginegoid, anthropid, android, dan platipelloid. Kelairan pervaginam janin dengan barat badan normal tidak akan mengalami gangguan. Panggul sempit absolut adalah ukuran konjungatavera kurang dari 10 cm dan diamete transversa kurang dari 12 cm. Oleh karena panggul sempit, kemungkinan kepala tertahan di pintu atas panggul lebih besar, maka dalam hal ini serviks uteri kurang mengalami tekanan kepala. Hal ini dapat mengakibatkan inersia uteri serta lambatnya pembukaan serviks (Prawirohardjo, 2009).
  • Tumor yang dapat mengakibatkan Obstruksi

Tumor dapat merupakan rintangan bagi lahirnya janin pervaginam. Tumor yang dapat dijumpai berupa mioma uteri, tumor ovarium, dan kanker rahim. Adanya tumor bisa juga menyebabkan resiko kelahiran peralinan menjadi lebih besar. Tergantung dari jenis dan besarnya tumor, perlu dipertimbangkan apakah persalinan dapat berlangsung melalui vagina atau harus melalui tindakan sectio caesare (Mochtar, 2012).

  • Plasenta Previa

Perdarahan obstertik yang terjadi pada kehamilan trimester ketiga dan yang terjadi setelah anak atau plasenta lahir pada umumnya atau perdarahan yang berat, dan jika tidak mendapatkan penanganan yang cepat bisa mengakibatkan syok yang fatal. Salah satu penyebabnya adalah plasenta previa (Sarwoo, 2008).

  • Ruptura Uteri Ruptura uteri baik yang terjadi dalam masa hamil atau dalam proses persalinan merupakan suatu malapetaka besar bagi wanita dan janinyng ada dikandungannya. Dalam kejadian nya ini boleh dikatakan sejumlah besar janin atau bahkan hampir tidak ada janin yang dapat diselamtkan, dan sebagian wanita tersebut meninggal akibat perdarahan, infeksi, atau menderita kecacatan dan tidak mungkin bisa menjadi hamil kembali karena terpaksa harus menjalani histerektomi (Prawirohardjo, 2009).
  • Disfungsi Uterus

Mencakup kerja uterus yang tidak adekuat. Hal ini menyebabkan tidak adanya kekuatan untuk mendorong bayi keluar dari rahim. Dan ini membuat kemajuan persalinan terhenti sehingga perlu penanganan dengan sectio caesare (Prawirohardjo, 2008).

  • Solutio Plasenta Disebut juga abrupsio plasenta, adalah terlepasnya sebagian atau seluruh plasenta sebelum janin lahir. Ketika plasenta terlepas, akan diikuti pendarahan meternal yang parah. Bahkan dapat menyebabkan kematian janin (Sarwono, 2008).
  1. Indikasi Janin
    • Kelainan letak janin
      1. Letak lintang Penyebab utama presentasi adalah relaksasiberlebihan dinding abdomen akibat multiparitas yang tinggi. Selain itu bisa juga disebabkan janin prematur, plasenta previa, uterus abnormal, cairan amnion berlebih, dan panggul sempit (Cunningham, 2016).
      2. Presentasi bokong

Presentasi bokong adalah janin letak memanjang dengan bagian rendahnya bokong, kaki, atau kombinasi keduanya. Dengan insidensi 3-4% dari seluruh persalinan aterm. Presentasi bokong adalah malpresentasi yang paling sering ditemui. Sebelum usia kehamilan 28 minggu, kejadian presentasi bokong berkisar antara 25-30% .

  1. Presentasi Ganda atau Majemuk

Presentasi ini disebabkan terjadinya prolaps satu atau lebih ekstermitas pada presentasi kepala atau bokong. Kepala memasuki panggul bersamaan dengan kaki dan atau dengan tangan. Faktor yang meningkatkan kejadian presentase ini antara lain prematuritas, multiparitas, panggul sempit dan kehamilan ganda (Prawirohardjo, 2008).

  • Gawat Janin Disebut gawat janin, bila ditemukan denyut jantung janin di atas 160/menit atau di bawah 100/menit, denyut jantung tidak teratur, atau keluarnya mekonium yang kental pada saat persalinan (Prawirohardjo, 2018).
  • Ukuran Janin Berat bayi lahir sekitar 4000 gram atau lebih (giant baby) menyebabkan bayi sulit keluar dari jalan lahir. Umumnya pertumbuhan yang berlebihan disebabkan ibu menderita kencing manis (diabetes melitus). Bayi yang lahir dengan ukuran yang besar dapat mengalami kemungkinan komplikasi persalinan 4 kali lebih besar dari pada bayi yang lahir dengan ukuran normal (Oxorn, 2010).
  1. Indikasi Ibu dan Janin
    • Gamelia atau bayi kembar

Kehamilan kembar atau multipel adalah suatu kehamilan dengan dua janin atau lebih. Kehamilan multipel dapat berupa kehamilan ganda (2 janin), triple (3 janin), kuadruplet (4 janin), quintuplet (5 janin), dan seterusnya sasuai hukum Hellin (Prawirohardjo, 2008).

  • Riwayat Sectio Caesarea

Sectio caesarea ulangan persalinan dengan sectio caesarea yang dilakukan pada seorang pasien yang pernah mengalami sectio caesarea pada persalinan sebelumnya, efektif maupun emergency. Hali ini perlu dilakukan jika ditemukan hal-hal seperti : Indikasi yang menetap pada persalinan sebelumnya seperti panggul sempit. Adanya kekhawatiran ruptur uteri pada bekas operasi sebelumnya.

  • Preeklamsia dan Eklamsia

Preeklamsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah melahirkan. Janin yang dikandung ibu dapat mengalami kekurangan nutrisi dan oksigen sehingga dapat terjadi gawat janin. Terkadang kasus preeklamsia dan eklamsia dapat menimbulkan kematian pada ibu, janin, bahkan keduanya (Decherney, 2017).

  1. Indikasi Sosial

Menurut Mackenzie et al (2011) permintaan ibu merupakan suatu faktor yang berperan dalam angka kejadian sectio caesarea yaitu mencapai 23%. Di samping itu, selain untuk menghindari sakit, alasan untuk melakukan sectio caesarea adalah untuk menjaga tonus otot vagina, dan bayi dapat lahir sesuai dengan waktu yang diinginkan. Walaupun begitu, menurut pelaksanaan sectio caesarea tanpa indikasi medis tidak dibenarkan secara etik.

  1. Kontra Indikasi
  2. Bila janin sudah mati atau keadaan buruk dalam uterus sehingga kemungkinan hidup kecil, dalam keadaan ini tidak ada alasan untuk melakukan operasi.
  3. Bila ibu keadaan syok, anemia berat yang belum teratasi.
  4. Bila jalan lahir mengalami infeksi luas.
  5. Adanya kelainan kongenital berat (Winkjosastro, 2017).
  6. Jenis-jenis Operasi Sectio Caesarea
  7. Abdomen (Sectio Caesarea Abdominalis)
  • Sectio Caesarea Transperitonalis (SCTP)

Sectio caesarea kliasik atau korporal dengan insisi memanjang pada korpus uteri kira-kira sepanjang 10 cm. Kelebihannya yaitu mengeluarkan janin lebih cepat, tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih dan sayatan lebih diperpanjang proksimal atau distal. Sedangkan kekurangannya infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealisasi yang baik, sering mengakibatkan ruptur uteri spontan pada persalinan berikutnya.

  • Sectio caesarea ikmika atau profunda low cervical dengan insisi pada segmen bawah rahim. Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen rahim kira-kira 10 cm. Kelebihannya yaitu penjaitan luka lebih muda, penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik, pendarahan kurang, mencegah isi uterus ke rongga peritonium, kemungkinan ruptura uteri spontan lebih kecil. Kekurangannya yaitu luka dapat melebar yang dapat menyebabkan arteri uterina putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak, keluhan kandung kemih post operatif tinggi.
  • Sectio Caesarea ektraperitonealis (SCEP) Sectio Caesarea yang dilakukan tanpa membuka peritoneum parietalis, dengan demikian tidak membuka vakum abdominal.
  1. Vagina (Sectio Caesarea Vaginalis) Menurut arah sayatan pada rahim, Sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut:
    • Sayatan memanjang (vertikal) menurut kronik
    • Sayatan melintang (transversal) menurut kerr
    • Insisi klasik
    • Sayatan huruf T terbalik (T-incision) (Prawirohardjo, 2018)
  2. Komplikasi
  3. Infeksi Puerperal (nifas)

1) Ringan, kenaikan suhu beberapa hari saja

2) Sedang, kenaikan shu disertai dehidrasi dan perut kembung

3) Berat, dengan peritonitis, sepsis dan ileus paraliti

  1. Perdarahan, karena :

1) Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka

2) Atonia uteri

3) Perdarahan pada

  1. Luka kandung kemih, emboli paru dan komplikasi lainnya yang jarang terjadi.
  2. Kemungkinan ruptur uteri atau terbukanya jahitan pada iterus karena operasi sebelumnya (Mochtar, 2015).

Konsep Ketuban Pecah Dini

  1. Pengertian

Ketuban pecah dini adalah pecahnya/rupturnya selaput amnion sebelum dimulainya persalinan yang sebenarnya atau pecahnya selaput amnion sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu dengan atau tanpa kontraksi (Mitayani, 2011). Ketuban pecah dini (KPD) yaitu pecahnya ketuban spontan sebelum awitan persalinan, terlepas dari usia kehamilan. Adapun pengertian ketuban pecah dini kurang bulan yaitu pecah ketubah sebelum cukup bulan (yaitu sebelum usia kehamilan genap 37 minggu), atau tanpa awitan persalinan (Kennedy, 2013).

  1. Etiologi

Penyebab pasti dari KPD ini belum jelas, akan tetapi ada beberapa keadaan yang berhubungan dengan terjadinya KPD ini, diantaranya adalah :

  1. Trauma : amniosintesis, pemeriksaan pelvis dan hubungan seksual, peningkatan tekanan intrauterus, kehamilan kembar dan polihidramnion
  2. Infeksi vagina, serviks atau koriomnionitis streptokokus, serta bakteri vagina.
  3. Selaput amniom yang mempunyai strujtur yang lemah/selaput terlalu tipis.
  4. Keadaan abnormal dari fetus seperti malpresentasi.
  5. Serviks yang inkompetensia, kanalis servikalis yang selalu terbuka oleh karena kelainan pada serviks uteri (akibat persalinan atau curetage).
  6. Multipara dan peningkatan usia ibu/usia ibu yang terlalu muda
  7. Defisiensi nutrisi dari tembaga atau asam askorbat (vitamin c). (Mitayani, 2011)
  8. Manifestasi Klinis
  9. Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina
  10. Aroma ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna merah.
  11. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus di produksi sampai kelahiran. Tetapi bila anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak dibawah biasanya mengganjal atau menyumbat keboncoran untuk sementara.
  12. Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, detak jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi. (Norma N, dkk, 2013)
  13. Komplikasi Ibu
  14. Infeksi intrapranatal/dalam persalinan Jika terjadi infeksi dan kontraksi ketuban pecah maka bisa menyebabkan sepsis yang selanjutnya dapat mengakibatkan angka morbiditas dan mortalitas.
  15. Infeksi puerpuralisis/masa nifas
  16. Dry labour/partus lama
  17. Perdarahan post partum
  18. Meningkatnya tindakan operatif obstetri (khususnya sc)
  19. Mobiditas dan mortalitas dan mortalitas maternal
  20. Komplikasi Janin
  21. Prematuritas Masalah yang dapat terjadi pada persalinan prematur diantaranya adalah respiratory distres sindrome, hypotermia, neeonatal feeding problem.
  22. Prolaps funiculli/penurunan tali pusat Hipoksia dan afiksia sekunder (kekurangan oksigen pada bayi) 3) Sindrom deformitas janin 25 4) Morbiditas dan mortalitas perinatal (Rahmawati Nur E, 2018 : 130)

Komplikasi paling sering terjadi pada ketuban pecah dini (KPD) sebelum usia kehamilan 37 minggu adalah sindrom distres pernafasan, yang terjadi pada 10-40% bayi baru lahir. Resiko infeksi meningkat pada kejadian ketuban pecah dini (KPD). Semua ibu hamil dengan ketuban pecah dini (KPD) prematur sebaiknya dievakuasi untuk kemungkinan terjadinya korioamnionitis (radang pada korion dan amnion). Selain itu terjadi prolaps atau keluarnya tali pusat dapat terjadi pada ketuban pecah dini (KPD).

Resiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada ketuban pecah dini (KPD) pretrem. Hipoplasi paru merupakan komplikasi fatal yang terjadi pada ketuban pecah dini (KPD) kejadiannya hampir mencapai 100% apabila ketuban pecah ini terjadi pada usia kehamilan kurang dari 23 minggu. Infeksi intrauterin, tali pusat menumbang, prematuritas, distosia (Norma N,dkk, 2013).

  1. Pemeriksaan Penunjang

Secara klinik diagnosa ketuban pecah dini tidak sukar di buat anamnesa pada klien dengan keluarnya air seperti kencing dengan tandatanda yang khas sudah dapat menilai itu mengarah ke ketuban pecah dini. Untuk menentukan betuk tidaknya ketuban pecah dini dapat dilakukan dengan cara :

  1. Pemeriksaan Laboratorium

Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsetrasi, bau dan PH nya. Cairan yang keluar dari vagina bisa air ketuban atau 26 mungkin juga urine atau sekret vagina. Tes lakmus (tes nitrazin), jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan air ketuban (alkalis). PH air ketuban 7-7,5, darah dan infeksi vagina dapat menghasilkan tes yang positif kadang palsu.

  1. Mikroskopik (tes pakis)

Dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambar daun pakis.

  1. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit. Namun sering terjadi kesalahan pada penderita oligohidroamnion. Walaupun pendekatan dignosa KPD cukup banyak macam dan caranya, namun pada umumnya KPD sudah bisa terdiagnosa dengan anamnesa dan pemeriksaan sederhana. (Norma N,dkk, 2013)

  1. Pencegahan
  2. Pemeriksaan kehmilan yang teratur
  3. Kebiasaan hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan yang sehat, minum cukup olahraga teratur dan berhenti merokok.
  4. Membiasaakan diri membersihkan daerah kemaluan dengan benar, yakni dari depan kebelakang, terutama setelah berkemih atau buang air besar.
  5. Memeriksakan diri ke dokter bila ada sesuatu yang tidak normal di daerah kemaluan, misalnya keputihan yang berbau atau berwarna tidak seperti biasanya.
  6. Untuk sementara waktu, berhenti melakukan hubungan seksual bila ada indikasi yang menyebabkan ketuban pecah dini, seperti mulut rahim yang lemah (Manuaba, 2015).
  7. Penatalaksanaan

Penatalksanaan KPD memerlukan pertimbangan usia kehamilan, adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda persalinan (Rahmawati, 2018).

  1. Konservatif
  • Pengelolaan konservatif dilakukan bila tidak ada penyulit baik pada ibu maupun pada janin dan haru di rawat dirumah sakit.
  • Berikan antibiotik (ampicilin 4 x 500mg atau eritromicin bila tidak tahan ampicilin) dan metronidazol 2 x 500mg selama 7 hari.
  • Jika usia kehamilan <32-34 minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar, atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.
  • Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi, tes buss negatif beri deksametason, observasi tanda-tanda infeksi, dan kesejahteraan janin, terminasi pada kehamilan 37 minggu.
  • Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi, berikan antibiotik (salbutamol) deksametason, dan induksi sesudah 24 jam.
  • Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan indikasi
  • Nilai tanda-tanda infeksi (suhu,leukosit,tanda-tanda infeksi intra uterin). 8) Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid, untuk memicu kematangan paru janin, dan kalau kemungkinan periksa kadar lesitin dan spingomeilin tiap minggu. Dosis betametason 12mg sehari dosis tunggal selama 2 hari, deksametason IM 5mg setiap jam sebanyak 4 kali.
  1. Aktif
    • Kehamilan lebih dari 37 minggu induksi dengan oksitosin, bila gagal sectio caesarea. Dapat pula diberikan misoprosal 50mg intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali.
    • Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotik dosis tinggi dan persalinan diakhiri.

Jika ibu dengan KPD ini tidak segera mendapatkan tindakan maka dapat menimbulkan resiko infeksi seperti bisa kemungkinan terjadi korioamnionitis (radang pada korion dan amnion). Namun maalah yang paling sering terjadi pada ketuban pecah dini (KPD) sebelum usia kehamilan 37 minggu adalah sindrom distres pernafasan. Semua ibu hamil 29 dengan ketuban pecah dini (KPD) prematur sebaiknya dievaluasi. Selain itu kejadian prolaps atau keluarnya tali pusat dapat terjadi pada ketuban pecah dini (KPD).

Resiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada ketuan pecah dini (KPD) pretrem. Hipoplasia paru merupakan komplikasi fatal yang terjadi pada ketuban pecah dini (KPD), infeksi intrauterin, tali pusar menumbang, prematuritas, distosia (Norma N, dkk, 2013).

Konsep Asuhan Keperawatan Post Sectio Caesarea indikasi Ketuban Pecah Dini

  1. Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar proses keperawatan suatu proses kolaborasi melibatkan perawat, ibu dan tim kesehatan lainnya. Pengkajian dilakukan melalui wawancara dan pemeriksaan fisik dalam pengkajian dibutuhkan kecermatan dan ketelitian agar dapat data yang terkumpul lebih akurat, sehingga dapat dikelompokkan dan dianalisis untuk mengetahui masalah dan kebutuhan ibu terhadap keperawatan.

Menurut Dongoes (2010) hasil pengkajian pada klien post op Sectio Caesarea meliputi :

  1. Pengumpulan Data
    • Indetitas Indetitas pasien dan yang penanggung jawab yang terdiri nama, umur terlalu muda <20 tahun beresiko terjadi KPD. Suku, agama, alamat, pekerjaan.
    • Keluhan Utama Biasanya pasien mengeluh nyeri pada perut bekas jahitan/tindakan Sectio Caesarea.
    • Riwayat Keluarga

Berencana Pasien sebelum hamil menggunakan kontrasepsi apa untuk mencegah kehamilan.

  • Riwayat penyakit dahulu

Adakah riwayat penyakit sebelum kahamilan dan pada usia hamil sebelumnya. Dan apakah pasien pernah melakukan sc pada kehamilan sebelumnya.

  • Riwayat kesehatan keluarga

Adakah penyakit keturunan dalam keluarga seperti jantung, DM, HT, TBC, penyakit kelamin, abortus, yang mungkin tersebut diturunkan kepada klien.

  1. Pemeriksaan fisik
    • B1 (Breathing)

Inspeksi : bentuk dada simetris atau tidak, ada otot bantu nafas, pola nafas reguler atau ireguler biasanya terjadi perubahan akibat anastesi, frekuensi nafas normal 16-24x/menit. Biasanya terdapat adanya pembesaran payudara, adanya hiperpigmentasi areola mamae dan papila mamae.

Palpasi : kaji vocal vremitus klien, getarannya sama atau tidak.

Perkusi : suara normalnya didapat sonor, jika terdapat ronchi didapat redup/pekak. Auskultasi : normal suara nafas vesikuler, adakan suara nafas tambahan seperti ronchi, whezing, dan lain-lain

  • B2 (Blood)

Inspeksi : lihat ada atau tidaknya sianosis, anemis (jka terjadi syok akibat perdarahan post partum).

Palpasi : kaji CRT normal kembali  <2 detik, akral hangat, cek nadi normal 60-100x/menit namun biasanya terdapat bradikardi pada post operasi dan takikardi (jika terjadi syok).

Perkusi : perkusi pada jantung normal didapatkan pekak.

Auskultasi : normal bunyi jantung S1 S2 tunggal, irama jantung regular . Irreguler : ada tidak bunyi jantung abnormal seperti murmur dan gallop, tekanan daah menurun efek anastesi.

  • B3 (Brain)

Inspeksi : pasien post op terlihat cemas, cek kesadaran dan nilai GCS (normal 4-5-6), wajah tampak menyeringai tidak karena terasa nyeri pada luka bekas operasi. Biasanya terdapat gangguan pola istirahat/tidur karena nyeri luka akibat bekas operasi yang dirasakan.

Palpasi : CRT <2 detik, nyeri pada luka bekas post operasi.

  • B4 (Bledder)

Inspeksi : lihat menggunakan cateter atau BAK spontan, biasanya terpasang cateter karena hal itu merupakan salah satu prosedur operasi. Periksa pengeluaran lochea, warna, bau, dan jumlahnya, cek warna urine dan baunya.

Palpasi : ada pembesaran bledder atau tidak, terdapat nyeri tekan atau tidak, biasanya ada nyeri tekan.

  • B5 (Bowel)

Inspeksi : lihat mukosa bibir kering atau lembab, adakan pasca operasi.

Palpasi : terdapat nyeri pada abdomen.

Perkusi : normal terdapat bunyi tympani dan redup bila terdapat cairan pada abdomen.

Auskultasi : hitung bising usus normal 5-15x/menit. Biasanya terjadi penurunan bising usus menurun sehingga terjadi konstipasi.

  • B6 (Bone)

Inspeksi : Adanya pembesaran payudara, adanya hiperpigmentasi areola mamae dan papilla mamae, putting susu kanan dan kiri menonjol / keluar (vertid).

Palpasi : Ada nyeri tekan pada luka post sc. Skala kekuatan otot : Adanya penurunan kekuatan otot ekstremitas bawah.

  • Uterus Fumdus kontraksi kuat dan terletak di umbilikus. Aliran lochea sedang (Arifin, 2014). Setelah plasenta lahir hingga 12 jam pertama tinggi fundus uteri 1-2 jari dibawah pusat (Nurbaeti, 2015).
  • Pola Aktivitas Cara mencegak terjadinya KPD adalah ibu hamil sebaiknya mengurangi aktifitas terutama pada trimester akhir kedua dan trimester ketiga kehamilannya. (Hidayat, 2009).
  • Pemberian ASI Biasanya dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu baru mendapatan anak pertama, biasanya kurang mengetahui bagaimana cara menyusui dan merawat payuadaranya dan jika memutuskan tidak menyusui maka dianjurkan pemasangan pembalut payudara yang mengencangkan payudara tanpa banyak menimbulkan kompesi dan biasanya dapat mengurangi rasa nyeri (Rheldayani, 2014).
  1. Analisa Data

Analisa data adalah data yang telah dikumpulkan, dikelompokkan dan di analisa untuk menentukan masalah kesehatan klien. Untuk mengelompokkan data dibagi menjadi dua data objektif dan data subjektif dan kemudian ditentukan masalah keperawatan yang timbul (Yeni, 2018).

  1. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinik tentang respon individu, keluarga, dan masyarakaat tentang masalah kesehatan aktual ayau potensial, sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat. (NANDA Internasional, 2015).

  1. Nyeri Akut berhubungan dengan luka bekas operasi pada abdomen.
  2. Gangguan Mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri pada abdomen post op SC.
  3. Kurangnya Perawatan diri berhubungan dengan penurunan kekuatan tubuh.
  4. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan pembedahaan
  1. Intervensi / perencanaan adalah rencana tindakan dan rasional yang sengaja dibuat untuk dilakukan kepentingan pasien atas dasar keputusan dokter atau perawat atau intervensi kolaboratif antar keduannya. ( NIC, 2015)
  2. Implementasi Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah direncakan mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi. Tindakan mandiri adalah tindakan keperawatan beradasarkan analisis dan kesimpulan perawat. Tindakan kolaborasi adalah tindakan keperawatan yang didasarkan oleh hasil keputusan bersama dengan dokter atau petugas kesehatan lain (Mitayani, 2011).
  3. Diagnosa 1 Implementasi : (1) Mengkaji tanda – tanda vital pasien. (2) Mengkaji skala nyeri (1-10). (3) Mengajarkan pasien teknik relaksasi. (4) Mengatur posisi pasien. (5) Memberikan lingkungan yang nyaman dan batasi pengunjung. 41
  4. Diagnosa 2 Implementasi : (1) Mengkaji tingkat mobilitasi dari pasien. (2) Memotivasi pasien untuk melakukan mobilitasi secara bertahap. (3) Mempertahankan posisi tubuh yang tepat. (4) Memberikan dukungan dan bantuan keluarga / orang terdekat pada latihan gerak pasien. (5) Memberi dorongan dalam aktivitas pasien.
  5. Diagnosa 3 Implementasi : (1) Mengkaji tingkat kemampuan diri dala keperawatan diri. (2) Motivasi pasien untuk melakukan aktivitas secara bertahap. (3) Melibatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pasien. (4) Mengkaji karakter dan jumlah aliran lochea. (5) Mengajarkan pasien latihan bertahap.
  6. Diagnosa 4 Implementasi : (1) Mengkaji tanda – tanda infeksi. (2) Memantau keadaan umum pasien. (3) Membina hubungan saling percaya melalui komunikasi therapeutic. (4) Berkolaborasi dengan dokter untuk memberikan obat antiseptik sesuai terapi.
  7. Evaluasi Evaluasi atau penilaian adalah perbandingan yang sistematik dan terencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara bersinambungan dengan melibatkan pasien dan tenaga kesehatan lainnya. (NANDA internasional, 2015)

1) Nyeri berkurang atau hilang.

2) Tidak ada gangguan mobilitas.

3) Tidak terdapat tanda – tanda infeksi

 

Download Askep Maternitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *