Asuhan Keperawatan Maternitas Mioma Uteri

 

LAPORAN PENDAHULUAN

  1. Pengertian Mioma Uteri

Mioma uteri adalah suatu tumor jinak berbatas tegas tidak berkapsul yang berasal dari otot polos dan jaringan ikat fibrous. Biasa juga disebut fibromioma uteri, leiomioma uteri atau uterine fibroid. Tumor jinak ini merupakan neoplasma jinak yang sering ditemukan pada traktus genitalia wanita, terutama wanita sesudah produktif (menopouse). Mioma uteri jarang ditemukan pada wanita usia produktif tetapi kerusakan reproduksi dapat berdampak karena mioma uteri pada usia produktif berupa infertilitas, abortus spontan, persalinan prematur dan malpresentasi (Aspiani, 2017).

  1. Etiologi

Menurut Aspiani ada beberapa faktor yang diduga kuat merupakan faktor predisposisi terjadinya mioma uteri.

  • Umur Mioma uteri ditemukan sekitar 20% pada wanita usia produktif dan sekitar 40%-50% pada wanita usia di atas 40 tahun. Mioma uteri jarang ditemukan sebelum menarche (sebelum mendapatkan haid).
  • Hormon Endogen (endogenous hormonal) Konsentrasi estrogen pada jaringan mioma uteri lebih tinggi dari pada jaringan miometrium normal.
  • Riwayat keluarga Wanita dengan garis keturunan dengan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri mempunyai 2,5 kali kemungkinan untuk menderita mioma dibandingkan dengan wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri.
  • Makanan Makanan di laporkan bahwah daging sapi, daging setengah matang (red meat), dan daging babi meningkatkan insiden mioma uteri, namun sayuran hijau menurunkan insiden menurunkan mioma uteri.
  • Kehamilan Kehamilan dapat mempengaruhi mioma uteri karena tingginya kadar estrogen dalam kehamilan dan bertambahnya vaskularisasi ke uterus. Hal ini mempercepat pembesaran mioma uteri. Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin berhubungan dengan respon dan faktor pertumbuhan lain. Terdapat bukti peningkatan produksi reseptor progesteron, dan faktor pertumbuhan epidermal.
  • Paritas Mioma uteri lebih sering terjadi pada wanita multipara dibandingkan dengan wanita yang mempunyai riwayat melahirkan 1 (satu) kali atau 2 (dua) kali Faktor terbentuknya tomor:
  1. Faktor internal Faktor internal adalah faktor yang terjadinya reflikasi pada saat selsel yang mati diganti oleh sel yang baru merupakan kesalahan genetika yang diturunkan dari orang tua. Kesalahan ini biasanya mengakibatkan kanker pada usia dini. Jika seorang ibu mengidap kanker payudara, tidak serta merta semua anak gandisnya akan mengalami hal yang sama, karena sel yang mengalami kesalahan genetik harus mengalami kerusakan terlebih dahulu sebelum berubah menjadi sel kanker. Secara internal, tidak dapat dicegah namun faktor eksternal dapat dicegah. Menurut WHO, 10% – 15% kanker, disebabkan oleh faktor internal dan 85%, disebabkan oleh faktor eksternal (Apiani, 2017).
  2. Faktor eksternal Faktor eksternal yang dapat merusak sel adalah virus, polusi udara, makanan, radiasi dan berasala dari bahan kimia, baik bahan kimia yang ditam,bahkan pada makanan, ataupun bahan makanan yang bersal dari polusi. Bahan kimia yang ditambahkan dalam makanan seperti pengawet dan pewarna makanan cara memasak juga dapat mengubah makanan menjadi senyawa kimia yang berbahaya. Kuman yang hidup dalam makanan juga dapat menyebarkan racun, misalnya aflatoksin pada kacang-kacangan, sangat erat hubungannya dengan kanker hati. Makin sering tubuh terserang virus makin besar kemungkinan sel normal menjadi sel kanker.

Proses detoksifikasi yang dilakukan oleh tubuh, dalam prosesnya sering menghasilkan senyawa yang lebih berbahaya bagi tubuh,yaitu senyawa yang bersifat radikal atau korsinogenik. Zat korsinogenik dapat menyebabkan kerusakan pada sel. Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumor pada mioma, disamping faktor predisposisi genetik.

  • Estrogen

Mioma uteri dijumpai setelah menarke. Sering kali, pertumbuhan tumor yang cepat selama kehamilan terjadi dan dilakukan terapi estrogen eksogen. Mioma uteri akan mengecil pada saat menopouse dan oleh pengangkatan ovarium. Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan wanita dengan sterilitas. Enzim hidrxydesidrogenase mengungbah estradiol (sebuah estrogen kuat) menjadi estrogen (estrogen lemah). Aktivitas enzim ini berkurang pada jaringan miomatous, yang juga mempunyai jumlah reseptor estrogen yang lebih banyak dari pada miometrium normal.

  • Progesteron

Progesteron merupakan antogonis natural dari estrogen. Progesteron menghambat pertumbuhan tumor dengan dua cara, yaitu mengaktifkan hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor.

  • Hormon pertumbuhan (growth hormone)

Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan, tetapi hormon yang mempunyai struktur dan aktivitas biologik serupa, yaitu HPL, terlihat pada periode ini dan memberi kesan bahwa pertumbuhan yang cepat dari leimioma selama kehamilan mungkin merupakan hasil dari aksi sinergistik antara HPL dan estrogen. .

  1. Klasifikasi Mioma

Mioma umunya digolongkan berdasarkan lokasi dan kearah mana mioma tumbuh.

  • Lapisan Uterus

Mioma uteri terdapat pada daerah korpus. Sesuai dengan lokasinya, mioma ini dibagi menjadi tiga jenis.

  1. Mioma Uteri Intramural

Mioma uteri merupakan yang paling banyak ditemukan. Sebagian besar tumbuh diantara lapisan uterus yang paling tebal dan paling tengah (miometrium). Pertumbuhan tumor dapat menekan otot disekitarnya dan terbentuk sampai mengelilingi tumor sehingga akan membentuk tonjolan dengan konsistensi padat. Mioma yaang terletak pada dinding depan uterus dalam pertumbuhannya akan menekan dan mendorong kandung kemih ke atas, sehingga dapat menimbulkan keluhan miksi.

  1. Mioma Uteri Subserosa

Mioma uteri ini tumbuh keluar dari lapisan uterus yang paling luar yaitu serosa dan tumbuh ke arah peritonium. Jenis mioma ini bertangkai atau memiliki dasar lebar. Apa bila mioma tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol kepermukaan uterus diliputi oleh serosa. Mioma serosa dapat tumbuh di antara kedua lapisan ligamentum latum menjadi mioma intraligamenter. Mioma subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke ligamentum atau omentum kemudian membebaskan diri dari uterus sehingga disebut wandering parasitis fibroid.

  1. Mioma Uteri Submukosa

Mioma ini terletak di dinding uterus yang paling dalam sehingga menonjol ke dalam uterus. Jenis ini juga dapat bertangkai atau berdasarkan lebar. Dapat tumbuh bertangkai menjadi polip, kemudian di keluarkan melalui saluran seviks yang disebut mioma geburt. Mioma jenis lain meskipun besar mungkin belum memberikan keluhan perdarahan, tetapi mioma submukosa walaupun kecil sering memberikan keluhan gangguan perdarahan. Tumor jenis ini sering mengalami infeksi, terutama pada mioma submukosa pedinkulata. Mioma submukosa pedinkulata adalah jenis mioma submukosa yang mempunyai tangkai. Tumor ini dapat keluar dari rongga rahim ke vagina, dikenal dengan nama mioma geburt atau mioma yang dilahirkan.

 

 

  1. Patofisiologi

Mioma uteri mulai tumbuh sebagai bibit yang kecil didalam miometrium dan lambat laun membesar karena pertumbuhan itu miometrium mendesak menyusun semacam pseudokapsula atau sampai semua mengelilingi tumor didalam uterus mungkin terdapat satu mioma akan tetapi mioma biasanya banyak. Bila ada satu mioma yang tumbuh intramural dalam korpus uteri maka korpus ini tampak bundar dan konstipasi padat. Bila terletak pada dinding depan uterus mioma dapat menonjol kedepan sehingga menekan dan mendorong kandung kemih keatas sehingga sering menimbulkan keluhan miksi (Aspiani, 2017).

Secara makroskopis, tumor ini biasanya berupa massa abu-abu putih, padat, berbatas tegas dengan permukaan potongan memperlihatkan gambaran kumparan yang khas. Tumor mungkin hanya satu, tetapi umumnya jamak dan tersebar di dalam uterus, dengan ukuran berkisar dari benih kecil hingga neoplasma masif yang jauh lebih besar dari pada ukuran uterusnya. Sebagian terbenam didalam miometrium, sementara yang lain terletak tepat di bawah endometrium (submukosa) atau tepat dibawah serosa (subserosa). Terakhir membentuk tangkai, bahkan kemudian melekat ke organ disekitarnya, dari mana tumor tersebut mendapat pasokan darah dan kemudian membebaskan diri dari uterus untuk menjadi leimioma “parasitik”. Neoplasma yang berukuran besar memperlihatkan fokus nekrosis iskemik disertai daerah perdarahan dan perlunakan kistik, dan setelah menopause tumor menjadi padat kolagenosa, bahkan mengalami kalsifikasi (Robbins, 2007).

  1. Respon Tubuh Terhadap

Perubahan Fisiologis Berikut beberapa perubahan yang dapat terjadi pada pada tubuh karena mioma uteri.

  • Degenerasi hialin, merupakan perubahan degeneratif yang paling umum ditemukan.
  1. Jaringan ikat bertambah
  2. Berwarna putih dan keras
  3. Sering disebut “mioma durum”.
  • Degenerasi kistik
  1. Bagian tengah dengan degenerasi hialin mencair.
  2. Menjadi poket kistik.
  • Degenerasi membantu (calcareous degeneration)
  1. Terdapat timbunan kalsium pada mioma uteri.
  2. Padat dan keras
  3. Berwarna putih.
  • Degenerasi merah (carneus degeneration )
  1. Paling sering terjadi pada masa kehamilan.
  2. Estrogen merangsang perkembangan mioma.
  3. Aliran darah tidak seimbang karena terjadi edema sekitar tungkai dan tekanan hamil.
  4. Terjadi kekurangan darah yang menimbulkan nekrosis, pembentukan trombus, bendungan darah dalam mioma, warna merah hemosiderosis atau hemofusin.
  5. Biasanya disertai rasa nyeri, tetapi dapat hilang dengan sendirinya. Komplikasi lain yang jarang ditemukan meliputi kelahiran prematur, ruptur tumor dengan perdarahan peritoneal, dan shock.
  • Degenerasi mukoid Daerah hyalin digantikan dengan bahan gelatinosa yang lembut dan biasa terjadi pada tumor yang besar, dengan aliran arterial yang tergangu.
  • Degenerasi lemak Lemak ditemukan dalam serat otot polos.
  • Degenerasi sarkomatous (transformasi maligna) Terjadi pada kurang dari 1% mioma. Kontraversi yang ada saat ini adalah apakah hal ini mewakili sebuah perubahan degeneratif ataukah sebuah neoplasma spontan. Leimiosarkoma merupakan sebuah tumor ganas yang jarang terdiri dari sel-sel yang mempunyai diferensiasi otot polos.
  1. Gambaran Klinis

Mioma Hampir separuh dari kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan pelvik rutin. Penderita memang tidak mempunyai keluhan apaapa dan tidak sadar bahwa mereka sedang mengalami penyakit mioma uteri dalam rahim.

  • Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya gejala klinik meliputi hal-hal berikut.
  1. Besarnya mioma uteri.
  2. Lokalisasi mioma uteri.
  3. Perubahan-perubahan pada mioma uteri.
  4. Gejala klinik terjadi hanya sekitar 35%-50% dari pasien yang terkena.
  • Gejala klinis lain yang dapat timbul pada mioma uteri adalah sebagai berikut.
  1. Perdarahan abnormal merupakan gejala klinik yang sering ditemukan (30%). Bentuk perdarahan yang ditemukan berupa menoragia, metroragia, dan hipermenorhe. Perdarahan dapat menyebabkan anemia defisiensi Fe. Perdarahan abnormal ini dapat dijelaskan oleh karena bertambahnya areah permukaan dari endometrium yang menyebabkan gangguan kontraksi otot rahim, distorsi, dan kongesti dari pembuluh darah disekitarnya dan ulserasi dari lapisan endometrium.
  2. Penekanan rahim yang membesar.
  3. Terasa berat di abdomen bagian bawah.
  4. Terjadi gejalah traktus urinarius: urine freqency, retensi urine, obstruksi ureter, dan hidronefrosis.
  5. Terjadi gejalah intestinal: kontipasi dan obstruksi intestinal.
  6. Terasa nyeri karena saraf tertekan.
  • Sedangkan rasa nyeri pada kasus mioma dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut.
  1. Penekanan saraf.
  2. Torsi bertangkai.
  3. Submukosa mioma terlahir.
  4. Infeksi pada mioma.
  • Perdarahan kontinu pada pasien dengan mioma submukosa dapat berakibat pada hal-hal berikut.
  1. Menghalangi implantasi terdapat peningkatan insiden aborsi dan kelahiran prematur pada pasien dengan mioma intramural dan submukosa. Kongesti vena terjadi karena kompresi tumor yang menyebabkan edema ekstermitas bawah, hemorrhoid, nyeri, dan dyspareunia. Selain itu terjadi gangguan pertumbuhan dan perkembangan kelahiran.
  2. Kehamilan dengan disertai mioma uteri menimbulkan proses saling mempengaruhi.
  3. Keguguran dapat terjadi.
  4. Persalinan prematuritas.
  5. Gangguan proses persalinan.
  6. Tertutupnya saluran indung telur menimbulkan infentiritas.
  7. Gangguan pelepasan plasenta dan perdarahan.
  8. Biasanya mioma akan mengalami involusi yang nyata setelah kelahiran.
  9. Penanganan Mioma Uteri

Penanganan mioma uteri dilakukan tergantung pada umur, paritas, lokasi, dan ukuran tumor. Oleh karena itu penanganan mioma uteri terbagi atas kelompok-kelompok berikut.

  • Penanganan konservatif dilakukan jika mioma yang kecil muncul pada pra dan postmenopause tanpa adanya gejala. Cara penanganan konsevatif adalah sebagai berikut.
  1. Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan.
  2. Jika terjadi anemia kemungkinan Hb menurun.
  3. Pemberian zat besi.
  4. Penggunaan agonis GnRH (gonadotropin-releasing hormone) leuprolid asetat 3,75 mg IM pada hari pertama sampai ketiga menstruasi setiap minggu, sebanyak tiga kali. Obat ini mengakibatkan pengerutan tumor dan menghilangkan gejala. Obat ini menekan sekresi gonodotropin dan menciptakan keadaan hipoestrogenik yang serupa ditemukan pada periode postmenopause. Efek maksimum dalam mengurangi ukuran tumor diobsevasi dalam 12 minggu.
  • Penanganan operatif, dilakukan bilah terjadi hal-hal berikut.
  1. Ukuran tumor lebih besar dari ukuran uterus 12-14 minggu
  2. Pertumbuhan tumor cepat.
  3. Mioma subserosa bertangkai dan torsi.
  4. Dapat mempersulit kehamilan berikutnya.
  5. Hiperminorea pada mioma submukosa.
  6. Penekanan organ pada sekitarnya.
  • Jenis operasi yang dilakukan untuk mengatasi mioma uteri dapat berupa langkah-langkah berikut.
  1. Enukleusi Mioma Enuklesia mioma dilakukan pada penderita yang infertil yang masih menginginkan anak, atau mempertahankan uterus demi kelangsungan fertilitas. Enukleasi dilakukan jika ada kemungkinan terjadinya karsinoma endometrium atau sarkoma uterus dan dihindari pada masa kehamilan. Tindakan ini seharusnya dibatasi pada tumor dengan tangkai dan tumor yang dengan mudah dijepit dan diikat. Bila miomektomi menyebabkan cacat yang menembus atau sangat berdekatan dengan endometrium, maka kehamilan berikutnya harus dilahirkan dengan seksio sesarea.
  • Menurut american college of Obstetricans gynecologists (ACOG), kriteria preoperasi adalah sebagai berikut.
    1. Kegagalan untuk hamil atau keguguran berulang.
    2. Terdapat leimioma dalam ukuran yang kecil dan berbatas tegas.
    3. Alasan yang jelas dari penyebab kegagalan kehamilan dan keguguran yang berulang tidak ditemukan.
  • Histeroktomi

Histerektomi dilakukan jika pasien tidak menginginkan anak lagi dan pada pasien yang memiliki leimioma yang simptomatik atau yang sudah bergejala. Kriteria ACOG untuk histerektomi adalah sebagai berikut.

  1. Terdapat satu sampai tiga leimioma asimptomatik atau yang dapat teraba dari luar dan dikelukan oleh pasien.
  2. Perdarahan uterus berlebihan.
  3. Perdarahan yang banyak, bergumpal-gumpal, atau berulang-ulang selama lebih dari delapan hari.
  4. Anemia akut atau kronis akibat kehilangan darah.
  • Rasa tidak nyaman pada daerah pelvis akibat mioma meliputi hal-hal berikut.
    1. Nyeri hebat dan akut.
    2. Rasa tertekan yang kronis dibagian punggung bawah atau perut bagian bawah.
    3. Penekanan buli-buli dan frekuensi urine yang berulang-ulangdan tidak disebabkan infeksi saluran kemih.
  • Penanganan radioterapi

Tujuan dari radioterapi adalah untuk menghentikan perdarahan. Langkah ini dilakukan sebagai penanganan dengan kondisi sebagai berikut

  1. Hanya dilakukan pada pasien yang tidak dapat dioperasi (bad risk patient).
  2. Uterus harus lebih kecil dari usia kehamilan 12 minggu.
  3. Bukan jenis submukosa.
  4. Tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rektum.
  5. Tidak dilakukan pada wanita muda karena dapat menyebabkan menopause.

Konsep Asuhan Keperawatan Pada pasien mioma uteri

  1. Pengkajian
  2. Anamnesa
  • Identitas Klien: meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, status pernikahan, pendidikan, pekerjaan, alamat.
  • Identitas Penanggung jawab: Nama, umur, jenis kelamin, hubungan dengan keluarga, pekerjaan, alamat.
  1. Riwayat Kesehatan
  • Keluhan Utama Keluhan yang paling utama dirasakan oleh pasien mioma uteri, misalnya timbul benjolan diperut bagian bawah yang relatif lama. Kadang-kadang disertai gangguan haid
  • Riwayat penyakit sekarang Keluhan yang di rasakan oleh ibu penderita mioma saat dilakukan pengkajian, seperti rasa nyeri karena terjadi tarikan, manipulasi jaringan organ. Rasa nyeri setelah bedah dan adapun yang yang perlu dikaji pada rasa nyeri adalah lokasih nyeri, intensitas nyeri, waktu dan durasi serta kualitas nyeri.
  • Riwayat Penyakit Dahulu Tanyakan tentang riwayat penyakit yang pernah diderita dan jenis pengobatan yang dilakukan oleh pasien mioma uteri, tanyakan penggunaan obat-obatan, tanyakan tentang riwayat alergi, tanyakan riwayat kehamilan dan riwayat persalinan dahulu, penggunaan alat kontrasepsi, pernah dirawat/dioperasi sebelumnya.
  • Riwayat Penyakit Keluarga Tanyakan kepada keluarga apakah ada anggota keluarga mempunyai penyakit keturunan seperti diabetes melitus, hipertensi, jantung, penyakit kelainan darah dan riwayat kelahiran kembar dan riwayat penyakit mental.
  • Riwayat Obstetri Untuk mengetahui riwayat obstetri pada pasien mioma uteri yang perlu diketahui adalah
  1. Keadaan haid Tanyakan tentang riwayat menarhe dan haid terakhir, sebab mioma uteri tidak pernah ditemukan sebelum menarhe dan mengalami atrofi pada masa menopause.
  2. Riwayat kehamilan dan persalinan Kehamilan mempengaruhi pertumbuhan mioma uteri, dimana mioma uteri tumbuh cepat pada masa hamil ini dihubungkan dengan hormon estrogen, pada masa ini dihasilkan dalam jumlah yang besar.
  3. Faktor Psikososial
  4. Tanyakan tentang persepsi pasien mengenai penyakitnya, faktorfaktor budaya yang mempengaruhi, tingkat pengetahuan yang dimiliki pasien mioma uteri, dan tanyakan mengenai seksualitas dan perawatan yang pernah dilakukan oleh pasien mioma uteri.
  5. Tanyakan tentang konsep diri : Body image, ideal diri, harga diri, peran diri, personal identity, keadaan emosi, perhatian dan hubungan terhadap orang lain atau tetangga, kegemaran atau jenis kegiatan yang di sukai pasien mioma uteri, mekanisme pertahanan diri, dan interaksi sosial pasien mioma uteri dengan orang lain.
  6. Pola Kebiasaan sehari-hari Pola nutrisi sebelum dan sesudah mengalami mioma uteri yang harus dikaji adalah frekuensi, jumlah, tanyakan perubahan nafsu makan yang terjadi.
  7. Pola eliminasi Tanyakan tentang frekuensi, waktu, konsitensi, warna, BAB terakhir. Sedangkan pada BAK yang harus di kaji adalah frekuensi, warna, dan bau.
  8. Pola Aktivitas, Latihan, dan bermain Tanyakan jenis kegiatan dalam pekerjaannya, jenis olahraga dan frekwensinya, tanyakan kegiatan perawatan seperti mandi, berpakaian, eliminasi, makan minum, mobilisasi
  9. Pola Istirahat dan Tidur Tanyakan waktu dan lamanya tidur pasien mioma uteri saat siang dan malam hari, masalah yang ada waktu tidur.
  10. Pemeriksaan Fisik
  • Keadaan Umum Kaji tingkat kesadaran pasien mioma uteri
  • Tanda-tanda vital : Tekanan darah, nadi,suhu, pernapasan.
  • Pemeriksaan Fisik Head to toe
  1. Kepala dan rambut : lihat kebersihan kepala dan keadaan rambut.
  2. Mata : lihat konjungtiva anemis, pergerakan bola mata simetris
  3. Hidung : lihat kesimetrisan dan kebersihan, lihat adanya pembengkakan konka nasal/tidak.
  4. Telinga : lihat kebersihan telinga.
  5. Mulut : lihat mukosa mulut kering atau lembab, lihat kebersihan rongga mulut, lidah dan gigi, lihat adanya penbesaran tonsil.
  6. Leher dan tenggorokan : raba leher dan rasakan adanya pembengkakan kelenjar getah bening/tidak.
  7. Dada atau thorax : paru-paru/respirasi, jantung/kardiovaskuler dan sirkulasi, ketiak dan abdomen.
  8. Abdomen Infeksi: bentuk dan ukuran, adanya lesi, terlihat menonjol, Palpasi: terdapat nyeri tekan pada abdomen Perkusi: timpani, pekak Auskultasi: bagaimana bising usus
  9. Ekstremitas/ muskoluskletal terjadi pembengkakan pada ekstremitas atas dan bawah pasien mioma uteri
  10. Genetalia dan anus perhatikan kebersihan,adanya lesi, perdarahan diluar siklus menstruasi.
  11. Diagnosa Keperawatan
  12. Nyeri akut berhubungan dengan nekrosis atau trauma jaringan dan refleks spasme otot sekunder akibat tumor
  13. Resiko syok berhubungan dengan perdarahan
  14. Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan imun tubuh sekunder akibat gangguan hematologis (perdarahan)
  15. Retensi urine berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasma pada organ sekitarnya, gangguan sensorik motorik.
  16. Resiko Konstipasi berhubungan dengan penekanan pada rectum (prolaps rectum)
  17. Ansietas berhubungan dengan perubahan dalam status peran, ancaman pada status kesehatan, konsep diri (kurangnya sumber informasi terkait penyakit)
  18. Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Keperawatan SLKI SIKI
1. Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan selama 3 x 24 jam diharapkan masalah keperawatan dapat teratasi dengan kriteria hasil sebagai berikut :

Kriteria Hasil

Tingkat Nyeri

a.    Keluhan nyeri dari skala 1 (meningkat) menjadi skala 5 (menurun)

b.    Meringis dari skala 1 (meningkat) menjadi skala 5 (menurun)

c.    Sikap protektif dari skala 1 (meningkat) menjadi skala 5 (menurun)

d.    Gelisah dari skala 1 (meningkat) menjadi skala 5 (menurun)

e.    Kesulitan tidur dari skala 1 (meningkat) menjadi skala 5 (menurun)

f.     Frekuensi nadi dari skala 1 (memburuk) menjadi skala 5 (membaik)

g.    Tekanan darah dari skala 1 (memburuk) menjadi skala 5 (membaik)

Manajemen Nyeri

Tindakan

Observasi

a.    Identifikasi lokasi, karakteristik, frekuensi, intensitas nyeri

b.    Identifikasi skala nyeri

c.    Identifikasi faktor yang memperberat nyeri dan memperingan nyeri

Terapeutik

a.       Berikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (kompres hangat/dingin)

b.      Fasilitasi istirahat dan tidur

Edukasi

a.       Jelaskan penyebab nyeri

b.      Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri

c.       Anjurkan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri

Kolaborasi

a.       Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu.

2. Intoleran aktivitas Setelah dilakukan tindakan selama 2 x 24 jam diharapkan masalah keperawatan dapat teratasi dengan kriteria hasil sebagai berikut :

Kriteria Hasil :

Tingkat Nyeri

a.       Frekuensi nadi dari skala 1 (menurun) menjadi skala 5 (meningkat)

b.      Saturasi oksigen dari skala 1 (menurun) menjadi skala 5 (meningkat)

c.       Kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dari skala 1 (menurun) menjadi skala 5 (meningkat)

d.      Keluhan lelah 1 (meningkat) menjadi skala 5 (menurun)

e.       Dyspnea saat aktivitas 1 (meningkat) menjadi skala 5 (menurun)

f.        Dyspnea etelah aktivitas 1 (meningkat) menjadi skala 5 (menurun)

g.      Aritmia saat aktivitas 1 (meningkat) menjadi skala 5 (menurun)

h.      Aritmia setelah aktivitas 1 (meningkat) menjadi skala 5 (menurun)

Manajemen Energi

Tindakan

Observasi

a.         Monitor pola jam tidur

b.         Monitor lokasi ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas

Terapeutik

a.         Sediakan lingkungan yang nyaman (batasi suara dan kunjungan)

b.        Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan

Edukasi

a.         Anjurkan melakukan aktivitas ceara bertahap

Kolaborasi

a.          Kolaborasi dengan ahli gizi

 

  1. Implementasi Keperawatan Teori

Pelaksanaan adalah realisasi rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, kegiatan dalam pelaksanaan juga meliput pengumpulan data lanjutan, mengobservası respon kilen. selama dan sesudah pelaksanaan tindakan dan menilai data yang baru. Ada beberapa ketrampilan yang dibutuhkan dalam hal Int. Pertama , ketrampilan kognitif. Ketramplian Kognitif mencangkup pengetahuan keperawatan yang menyeluruh perawat harus mengetahui alasan untuk setiap Intervensi terapeutik, memahami respon fisiologıs dan psikologis normal dan abnormal, mampu mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran dan pemulangan klien, dan mengenali askep-askep promotif kesehatan klien dan kebutuhan penyakit. Kedua, ketrampilan Interpersonal, Ketrampilan ini penting untuk tindakan keperawatan yang efektif.

  1. Evaluasi

Merupakan tahap akhir dari suatu proses keperawatan yang merupakan perbandingan sistematis dan rencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *