Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Post Op Apendisitis Dengan Masalah Keperawatan Nyeri

 

Laporan Pendahuluan Apendisitis

  1. Definisi

Usus buntu adalah saluran usus yang terjadinya pembusukan dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum. Penyakit usus buntu timbul ketika usus buntu tersumbat benda keras di dalam tinja atau bengkaknya cabang kelenjar getah bening pada usus yang dapat terjadi oleh karena berbagai macam infeksi. Pada kasus yang sama, usus buntu bengkak, dan kuman dapat berkembang di dalamnya. Sangat penting untuk ditangani karena jika terlambat akan dapat berakibat fatal bagi penderitanya. (Masriadi, 2016)

Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks). Usus buntu sebenarnya adalah sekum (cecum). Infeksi ini bisa mengakibatkan peradangan akut sehingga memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya. (Nurarif & kusuma, 2015). Apendisitis adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (nian afrian nuari, 2015) Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum (cecum). (nian afrian nuari, 2015)

Apendisitis adalah kondisi infeksi terjadi diumbai cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan tindakan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. (Wahit Iqbal Mubarak, dkk. 2015) Apendisitis adalah kasus gawat bedah abdomen yang paling sering terjadi. Apendisitis adalah peradangan yang terjadi pada apendiks vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang sering. Apendiks disebut juga umbai cacing. Istilah usus buntu yang selama ini dikenal dan digunakan di masyarakat kurang tepat, karena yang merupakan usus buntu sebenarnya adalah sekum. (Andra & Yessie, 2013).

  1. Anatomi fisiologi

Usus buntu adalah organ yang berbentuk tabung kecil dan tipis berukuran 5-10 cm yang terhubung di usus besar (tempat tinja berbentuk). Tidak ada yang tahu kenapa kita memiliki usus buntu atau apendisitis dapat menyebabkan komplikasi tertentu. Apendisitis merupakan penyakit yang umum dan paling sering ditemukan pada kalangan muda yang berusia 10-20 tahun, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa penyakit bisa menyerang siapa saja. (Masriadi, 2016 ) Fungsi apendiks tidak diketahui. Apendiks menghasilkan lendir 2-1 ml/hari. Lendir secara normal dicurahkan ke dalam lumen dan selang mengalir ke sectum. Hambatan aliran lendir di muaran apendiks tampaknya berperan pada patogenisasi apendiksitis. Diperkirakan apendiks mempunyai peranan dalam mekanisme imunologik. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lympoid Tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks ialah Ig A. Immunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh sebab jumlah jaringan limfe disini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlah di saluran cerna dan saluran tubuh. (Andra & Yessie, 2013)

 

 

  1. Etiologi

Apendisitis merupakan organ yang belum diketahui fungsinya tetapi menghasilkan lendir 1-2 ml per hari yang normalnya dicurahkan kedalam lumen dan selanjutnya mengalir kesekum. Hambatan aliran lindir dimuara apendiks tampaknya berperan dalam pathogenesis apendiks. (Nurarif & kusuma, 2015)

Menurut klasifikasi

Adapun klasifikasi menurut Nurarif & kusuma (2015). Antara lain sebagai berikut:

1) Apendisitis akut merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteria. Dan faktor pencetusnya disebabkan oleh sumbatan lumen apendiks. Selain itu hyperplasia jaringan limf, fikalit (tinja/batu), tumor apendiks, dan cacing askarisyang dapat menyebabkan sumbatan dan juga erosi mukosa apendiks karena parasit (E.histolytica).

2) Apendisitis rekurens yaitu jika ada riwayat nyeri berulang diperut kanan bawah yang mendorong dilakukannya apendiktomi, kelainan ini terjadi bila serangan apendisitis akut pertama kali sembuh spontan. Namun apendisitis tidak pernah kembali kebentuk aslinya karena terjadi fibrosis dan jaringan parut.

3) Apendisitis kronis memiliki semua gejala riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang kronik apendiks secara makroskopik dan mikroskopik (fibrosis menyeluruh didinding apendiks, sumbatan persial atau lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa dan infiltasi sel inflamasi kronik), dan keluhan menghilang setelah apendiktomi.

  1. Patofisiologi

Apendiksitis biasanya disebabkan oleh penyumbangan lumen apendiks oleh hyperplasia folikel llimfoid, fekalit, benda asing, struktur karena fikosis akibat peradangan sebelumnya atau neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mucus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen, tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema. Diaforesis bakteri dan ulserasi mukosa pada saat inilah terjadi apendiksitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.

Sekresi mukus terus terlanjut, tekanan akan terus meningkat, hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema dan bakteri akan menembus dinding apendiks. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneumsetempat sehingga menimbulkan nyeri di abdomen 16 kanan bawah, keadaan ini disebut dengan apendiksitis sukuratif akut. Aliran arteri terganggu akan terjadi imfark dinding apendiks yang diikuti dengan gangrene, stadium ini disebut dengan apendiksitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh ini dipecah akan terjadi apendisitis perforasi. (Andra & Yessie, 2013)

  1. Manifestasi klinis

Adapun Manifestasi klinis Menurut Nian Afrian Nuari, (2015). Antara lain sebagai berikut:

1) Mual, muntah, dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah

2) Nyeri bisa secara mendadak dimulai diperut sebelah atas atau di sekitar pusar, lalu timbul mual dan muntah

3) Setelah beberapa jam, rasa mual hilang dan dan nyeri berpindah ke perut kanan bagian bawah

4) Jika dokter menekan daerah ini, penderita merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan, nyeri bisa bertambah tajam.

5) Demam bisa mencapai 37,8 – 38,8˚C

6) Pada bayi dan anak-anak, nyerinya bersifat menyeluruh, disemua bagian perut. Pada orang tua dan wanita hamil, nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa.

7) Bila usus buntu pecah, nyeri dan demam bisa menjadi berat.

8) Infeksi yang bertambah buruk bisa menyebabkan syok

9) Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan, penderita nampak sakit, menghindarkan pergerakan, diperut terasa nyeri.

  1. Pemeriksaan penunjang

Adapun Pemeriksaan penunjang Menurut Nurarif & kusuma, (2015). Antara lain sebahgai berikut:

1) Pemeriksaan fisik

  1. Inspeksi : akan tampak adanya pembengkakan (swelling) rongga perut dimana dinding perut tampak mengencang (distensi)
  2. Palapasi : didaerah perut kanan bawah bila ditekan akan terasa nyeri dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri (blumberg sign) yang mana merupakan kunci dari diagnosis apendisitis akut.
  3. Dengan tindakan tungkai kanan dan paha ditekuk kuat/tungkai diangkat tinggi-tinggi, maka rasa nyeri diperut semakin parah (psoas sign).
  4. Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin bertambah bila pemeriksaan dubur dan atau vagina menimbulkan rasa nyeri juga
  5. Suhu dubur (rectal) yang lebih tinggi dari suhu ketiak (axilla), lebih menunjang lagi adanya radang usus buntu
  6. Pada apendiks terletak pada retro sekal maka uji psoas akan positif dan tanda perangsangan peritoneum tidak begitu jelas, sedangakan bila apendiks terletak di rongga pelvis maka obturator sign akan positif dan tanda perangsangan peritoneum akan lebih menonjol.

2) Pemeriksaan Laboratorium Kenaikan dari sel darah putih (leukosit) hingga sekitar 10.000/mm3. jika terjadi peningkatan yang lebih dari itu, maka kemungkinan apendiks sudah mengalami perforasi (pecah).

3) Pemeriksaan radiologi

  1. Foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit (jarang membantu).
  2. USG (Ultrasonografi), CT scan.
  3. Kasus kronik dapat dilakukan rontgen foto abdomen, USG abdomen dan apendikogram
  4. Komplikasi APP Menurut Andra & Yessie, (2013)
  • Perforasi Insidens perforasi 10-32%, rata-rata 20%, paling sering terjadi pada usia muda sekali atau terlalu tua, perforasi timbul 93% pada anakanak dibawah 2 tahun antara 40-75% kasus usia diatas 60 tahun ke atas. Perforasi yang timbul dalam 12 jam pertama sejak awal sakit, tetapi insiden meningkat tajam sesudah 24 jam. Perforasi terjadi 70a% pada kasus dengan peningkatan suhu39,5˚C tampak toksil, nyeri tekan seluruh perut dan leukositosis meningkat akibat perforasi dan pembentukan abses.
  • Peritonitis Adalah trombofebitis septik pada sistem vena porta ditandai dengan panas tinggi 29˚C-40˚C menggil dan ikterus merupakan penyakit yang relatif jarang,
  • Tromboflebitis supuratif dari sistem portal, jarang terjadi tetapi merupakan komplikasi yang letal
  • Abses subfrenikus dan fokal sepsis intraabdominal lain
  • Obstruksi intestinal juga dapat terjadi akibat perlengketan
  1. Penatalaksanaan

Tatalaksana Apendisitis pada kebanyakan kasus adalah apendektomi. Keterlambatan dalam tatalaksana dapat meningkatkan kejadian perforasi. Teknik laparoskopik, apendektomi laparoskopik sudah terbukti menghasilkan nyeri pasca bedah yang lebih sedikit, pemulihan yang lebih cepat dan angka kejadian infeksi luka yang lebih rendah. Akan terapi terhadap peningkatan kejadian abses intra abdomen dan pemanjangan waktu operasi. Laporoskopi itu dikerjakan untuk diagnosa dan terapi pada pasien dengan akut abdomen, terutama pada wanita. (Nurarif & kusuma, 2015)

  1. Konsep Keperawatan
  2. Pengkajian

Adapun pengkajian menurut Nian Afrian Nuari (2015), antara lain sebagai berikut:

  • Identitas Klien

Meliputi nama lengkap, tempat tinggal, umur, asal, suku bangsa, dan pekerjaan

  • Keluhan utama

klien akan mendapatkan nyeri disekitar epigastrium menjalar keperut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri dipusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu. Sifat keluhan nyeri dirasakan terus menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama. Keluhan yang menyerupai biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah, panas.

3) Riwayat Penyakit Sekarang

4) Diet, kebiasaan makan makanan rendah serat

5) Pemeriksaan fisik :

  1. Keadaan umum klien tampak sakit ringan/sedang/berat.
  2. Sirkulasi : takikardia
  3. Respirasi : takipnoe, pernafasan dangkal
  4. Aktivitas/istirahat : malaise
  5. Eliminasi : konstipasi pada awal, diare kadang-kadang.
  6. Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tdak ada bising usus.
  7. Nyeri/kenyamanan, nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang meningkat berat dan terlikalisasi pada titik Mc. Burney, meningkat karena berjalan, bersin, batuk atau nafas dalam. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posis ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak.
  8. Demam lebih dari 38˚C
  9. Data psikologis klien nampak gelisah
  10. Ada perubahan denyut nadi pernafasan
  11. Pada pemeriksaan rectal toucher akan teraba benjolan dan penderitamerasa nyeri pada daerah prolitotomi
  12. Berat badan sebagai indikator untuk menetukan pemberian obat

6) Pemeriksaan penunjang

  1. Tanda-tanda peritonitis kuadran kanan bawah, gambaran perselubungan mungkin terlihat “ileal atau caecal ileus” (gambaran garis permukaan cairan udara di sekum atau ileum)
  2. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat
  3. Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal
  4. Peningkatan leukosit, neutrofilia, tanpa eosinofil
  5. Pada enema barium apendiks tidak terisi
  6. Ultrasound : fekalit nonkalsifikasi, apendiks nonperforasi, abses apendiks.
  7. Diagnosa keperawatan

Adapun Diagnosa keperawatan Menurut Nurarif & kusuma, (2015). Antara lain sebagai berikut:

  1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
  2. Hipertermia b.d respon sistemik dari inflamasi gastrointestinal
  3. Nyeri akut b.d inflamasi dan infeksi
  4. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif, mekanisme kerjaperistaltic usus menurun
  5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d factor biologis, ketidakmampuan untuk mencerna makanan
  6. Kerusakan integritas jariangan
  7. Gangguan rasa nyaman
  8. Resiko ketidakefektifan perfusi gastrointestinal b.d proses infeksi penurunan sirkulasi darah ke gastrointestinal, hemoragi gastrointestinal akut.
  9. Resiko infeksi b.d tidak adekuatnya pertahanan tubuh
  10. Ansietas b.d proknosis penyakit rencana pembedahan

 

  1. Intervensi/ Rencana Keperawatan Adapun Intervensi/ Rencana Keperawatan

 

No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC) Intervensi Keperawatan (NIC)
1. Diagnosa : Nyeri

akut 

Definisi : Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau                    yang digambarkan sebagai kerusakan; awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi.

 

Batasan

Karakteristik:

a. Bukti nyeri dengan menggunakan standar daftar periksa nyeri untuk pasien yang tidak dapat

mengungkapkann

ya

b.      Diaforesis

c.       Dilatasi pupil

d.      Ekspresi     wajah nyeri

e.       Fokus menyempit

f.        Fokus pada diri sendiri

g.      Keluhan tentang intensitas

menggunakan

standar         skala

nyeri

h.      Perilaku distraksi

i.        Putus asa

j.        Sikap melindungi area nyeri

 

Faktor              yang

Berhubungan:

a.       Agens cedera biologis (misalnya infeksi, iskemia, neoplasma)

b.       Agens cedera fisik (misalnya abses, amputasi, luka bakar, terptong, mengangkat berat, prosedur bedah, trauma,

olahraga berlebihan)

c.      Agens cedera kimiawi (misalnya luka bakar, kapsaisin, metilen klorida, agens mustard).

NOC : Tingkat Nyeri 

 

Indikator Hasil :

1.      Nyeri       yang dilaporkan

2.      Panjangnya episode nyeri

3.      Menggosokkan area yang terkena dampak

4.      Mengerang          dan menangis

5.      Ekspresi nyeri wajah

6.      Tidak       bisa beristirahat

7.      Agitasi

8.      Iritabilitas

9.      Mengerinyit

10.  Mengeluarkan

keringat

11.  Ketegangan otot

 

Keterangan :

1       = Berat

2       = Cukup berat

3       = Sedang

4       = Ringan

5       = Tidak ada

NIC :  Manajemen Nyeri 

1.     Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi,

karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan faktor pencetus.

2.     Pastikan perawatan analgesik bagi pasien dilakukan dengan pemantauan yang ketat.

3.     Gali pengetahuan dan kepercayaan pasien mengenai nyeri.

4.     Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan dirasakan, dan antisipasi dari ketidaknyamanan akibat prosedur.

5.     Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien

Terhadap ketidaknyamanan (misalnya, suhu

ruangan, pencahayaan, suara bising).

6.     Dorong pasien untuk memonitor nyeri dan menangani nyerinya dengan tepat.

7.     Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi, dan interpersonal).

8.     Dukung istirahat/tidur yang adekuat untuk membantu penurunan nyeri.

9.     Berikan individu penurun nyeri yang optimal dengan peresepan analgesik.

10. Libatkan keluarga dalam modalitas penurun nyeri, jika memungkinkan.

11. Monitor kepuasan pasien terhadap manajemen nyeri dalam interval yang spesifik.

 

NIC : Pemberian Analgesik 

1.     Tentukan lokasi, karakteristik, kulitas dan keparahan nyeri.

2.        Cek      perintah pengobatan meliputi obat, dosis dan frekuensi obat analgesik yang diresepkan.

3.     Cek adanya riwayat alergi obat.

4.     Evaluasi kemampuan pasien untuk berperan serta dalam pemilihan analgetik, rute dan dosis dan keterlibatan pasien sesuai kebutuhan.

5.     Pilih analgetik atau kombinasi analgesik yang sesuai ketika lebih dari satu diberikan.

6.     Tentukan analgesik sebelumnya, rute pemberian, dan dosis untuk mencapai hasil pengurangan nyeri yang optimal.

7.     Pilih rute intravena daripada rute intramuskular untuk injeksi pengobatan yang sering, jika memungkinkan.

8.     Monitar tanda-tanda vital sebelum dan sesudah memberikan analgesik narkotik pada pemberian dosis pertama kali atau jika ditemukan tandatanda yang tidak biasanya.

9.        Berikan kebutuhan kenyamanan dan aktivitas lain yang dapat membantu

2. Diagnosa: Hambatan

mobilitas fisik

Definisi: Keterbatasan dalam gerakan fisik atau satu atau lebih ekstremitas secara mandiri dan terarah.

 

Batasan Karakteristik :

a.     Dispnea setelah beraktivitas

b.     Gangguan sikap berjalan

c.     Gerakan lambat

d.     Gerakan spastik

e.     Gerakan     tidak terkoordinasi

f.      Kesulitan membolak-balik posisi

g.     Keterbatasan rentang gerak

h.     Ketidaknyamana n

i.       Penurunan waktu reaksi

j.       Tremor       akibat bergerak

 

Faktor              yang Berhubungan :

a.     Agens farmaseutikal

b.    Ansietas

c.    Depresi

d.    Fisik tidak bugar

e.    Gangguan fungsi kognitif

f.     Gaya hidup kurang gerak

g.    Intoleran aktivitas

h.    Kaku sendi

i.      Malnutrisi

j.      Nyeri

k.    Penurunan kekuatan otot

l.      Penurunan kendali otot

m.  Penurunan massa otot

NOC : Pergerakan

Indikator Hasil:

1.      Keseimbangan

2.      Koordinasi

3.      Cara berjalan

4.      Gerakan otot

5.      Gerakan sendi

6.      Kinerja pengaturan tubuh

7.      Kinerja transfer

8.      Berlari

9.      Melompat

10.  Merangkak

11.  Berjalan

12.  Bergerak   dengan mudah

 

Keterangan :

1       = Sangat terganggu

2       = Banyak terganggu

3       = Cukup terganggu

4       = Sedikit terganggu

5       = Tidak terganggu

NIC : Peningkatan

Latihan 

1.     Hargai keyakinan individu terkait latihan fisik.

2.     Gali hambatan untuk melakukan latihan.

3.     Dukung ungkapan perasaan mengenai latihan atau kebutuhan untuk melakukan latihan.

4.     Dukung individu untuk memulai atau melanjutkan latihan.

5.     Libatkan keluarga/orang yang memberi perawatan dalam merencanakan dan meningkatkan program latihan.

6.     Monitor respon individu terhadap program latihan.

7.     Sediakan umpan balik positif atas usaha yang dilakukan individu.

3. Diagnosa : Resiko infeksi

Definisi : Rentan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen, yang dapat membahayakan kesehatan.

 

Batasan karakteristik:

a.        Penyakit Kronis (mis., Diabetes Mellitus)

b.    Vaksinasi yang tidak memadai

c.    Pengetahuan yang tidak memadai untuk hindari paparan patogen

d.    Prosedur invasif

e.     Malnutrisi

f.      Obesitas

 

Pertahanan Dasar yang Tidak Memadai:

a.     Perubahan dalam gerakan

peristaltik

b.     Perubahan pH sekresi

c.     Perubahan dalam integritas kulit

d.     Penurunan aksi

siliaris

e.     Ketuban     pecah dini

selaput

f.      Perpecahan yang berkepanjangan membran amniotik

g.     Merokok

h.     Stasis          cairan tubuh

 

Pertahanan

sekunder        yang tidak memadai:

a.    Penurunan hemoglobin

b.    Imunosupresi

c.    Leukopenia

d.    Peradangan tertindas respons (mis., IL-6, CRP)

e.    Vaksinasi yang tidak memadai

f.     Peningkatan Paparan Lingkungan        ke Patogen

g.    Paparan wabah penyakit

NOC :

Kontrol resiko: proses

infeksi

 

Indikator hasil:

a.    Mengenali faktor resiko individu terkait infeksi

b.    Mengidentifikasi tanda dan gejala infeksi

c.     Mempertahankan lingkungan yang bersih

d.    Memamfaatkan sumber informasi yang terpercaya

 

Keterangan:

1=Tidak pernah menunjukkan

2=Jarang menunjukkan

3=Kadang-kadang menunjukkan

4=Sering menunjukkan

5=Secara konsisten menunjukkan

NIC: Perawatan luka

1.         Angkat balutan dan plaster perekat

2.         Monitor karakteriatik luka termasuk drainase

3.         Ukur luas luka

4.         Bersihkan     dengan normal saline

5.         Berikan    rawatan insisi pada luka

6.         Berikan perawatan ulkus pada kulit

7.         Oleskan salep yang sesuai dengan kulit

8.         Berikan balutan yang sesuai dengan jenis luka

9.         Bandingkan dan catat setiap perubahan luka

10.     Dokumentasikan lokasi, ukuran luka, dan tampilan

  1. Implementasi keperawatan

Pelaksanaan tindakan keperawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditunjukkan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan.

  1. Evaluasi

Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaanya sudah berhasil dicapai.

Daftar Pustaka

Andra & Yessie, 2013, KMB 1 Keperawatan Medikal Bedah KEPERAWAN DEWASA TEORI DAN CONTOH ASKEP, Yogyakarta, Nuha Medika

Dr. H. Masriadi, SKM, S.Pd.I, S.Kg, M.Kes, MH, 2016, Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Jakarta, Trans Info Media DS.

Gloria M. Bulechek, dkk, 2016, Nursing Interventions Classification, Edisi Keenam, Singapore,

Elsevier Inc Nurarif & kusuma ,2015 Apalikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis,NANDA NIC – NOC Edisi revisi jilid 2, jogjakarta, Mediaction

Nian Afrian Nuari, S.Kep, Ns, M.Kep, 2015, Buku Ajar Asuhan Keperawatan Pada Gangguan Sistem Gastrointestinal, Yogyakarta, TIM

Ns. Eni Kusyati, S.Kep, M.Si. Med, CWCS, dkk, 2016, Keterampilan & Prosedur Laboratorium Keperawatan Dasar Edesi 2, Jakarta, EGC

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *